Mendidik, Bukan Sekedar Mengajar

Guru adalah pahlawan tanpa tanda jasa. Itulah kalimat yang sering di dengar oleh seluruh insan, sejak dari masa kanak-kanak hingga tumbuh dewasa. Kalimat itu mempunyai makna yang sangat dalam atas keberadaan dan peran dari seorang guru, tidak terkecuali juga dosen, sebab mereka adalah insan yang menjalankan sebuah profesi sebagai pendidik. Dalam menjalankan profesi sebagai pendidik mereka bertanggungjawab tidak hanya atas kecerdasan ilmiah, tetapi juga kecerdasan spiritual dan emosional anak didik. 

Penulis :
Dr. Yusa Djuyandi, S.IP., M.Si.

Dosen Program Studi Ilmu Politik, Universitas Padjadjaran, dan Program Studi Ilmu Komunikasi, Universitas Bina Nusantara

Atas beban tanggungjawab ini maka guru dan dosen seringkali diasosiasikan sebagai orang tua dari anak didik dari lingkungan pendidikan, yang perannya tidak hanya terbatas pada apa yang terjadi di lingkungan pendidikan (sekolah atau kampus).

Peran dan tanggungjawab pendidik yang sangat besar untuk mencerdaskan kehidupan bangsa, menjadikan profesi ini sebagai profesi yang mulia, dan tidak dipungkiri masyarakat menganggap bahwa guru dan dosen adalah pahlawan. Sebagai pahlawan mereka membantu masyarakat dengan tidak di beri label formal sebagai pahlawan, inilah yang membedakan pendidik sebagai pahlawan dengan pahlawan lainnya dari profesi prajurit TNI dan Polri. Dalam profesi TNI dan Polri, prajurit yang berjasa dan dianggap pahlawan akan disematkan tanda penghargaan atau mungkin yang lebih sering didengar sebagai lencana. Akan tetapi bagi profesi guru dan dosen, penghargaan sebagai pahlawan pendidikan lebih banyak terletak pada hati dan persepsi masyarakat.

Meskipun profesi sebagai guru dan dosen dianggap berharga dan penting, akan tetapi tidak dapat dipungkiri masih cukup banyak persoalan yang muncul dalam dunia pendidikan. Seperti adanya kasus pelecehan seksual oleh oknum guru, kekerasan terhadap anak didik, mulai hilangnya orientasi pendidikan, dan masih banyak lagi persoalan lainnya. Semua persoalan itu adalah pekerjaan rumah yang harus diselesaikan secara bersama-sama oleh tenaga pendidik, yaitu mengembalikan profesi guru dan dosen sebagai pendidik dan bukan hanya sekedar sebagai seorang pengajar.

Pendidik dan pengajar merupakan dua kata yang sekilas memiliki makna yang sama, padahal di antara keduanya terdapat perbedaan. Bahwa mengajar adalah suatu tindakan untuk membuat orang lain mengerti, atau paham akan sesuatu. Menjadi seorang pengajar, berarti wajib membuat orang lain mengerti akan hal yang dijelaskan pada mereka, dan ini terkait dengan ilmu pengetahuan yang sifatnya formal. Sedangkan pendidik bermakna memelihara dan memberi latihan (ajaran, tuntunan, pimpinan) mengenai akhlak dan kecerdasan pikiran. Berdasarkan definisi itu maka dapat ditarik benang merah bahwa didik/ mendidik/ pendidikan adalah hal yang terkait dengan akhlak atau budi pekerti, bukan hanya melulu mengenai sebuah materi pelajaran.

Oleh karena itu, guru dan dosen sebagai pendidik perlu memiliki kecerdasan intelektual sekaligus emosional, sehingga mereka tidak hanya pandai mengajar ilmu pengetahuan tapi juga mampu mengarahkan dan memberikan contoh perilaku yang baik kepada anak didik. Bagi para pendidik, hal yang seharusnya dilakukan adalah bukan membaca buku dan mendiktekannya di depan kelas, bukan lagi memberikan hukuman (punishment) yang membuat peserta didik traumatis. Harapan atau tujuan dari pendidkan adalah menciptakan anak didik tidak hanya tercerahkan secara teoritis tapi juga tercerahkan secara etika dan perilaku.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *