Pendidikan Demi Peradaban

elhasanatour.com

Pendidikan adalah proses bagaimana manusia tetap bertahan sebagai manusia. Pendidikan inilah yang menyebabkan tetapnya manusia dianggap manusia. Manusia terdidik dengan ilmu yang dimilikinya adalah sejatinya manusia. Apalah jadinya manusia tanpa pendidikan atau apa pula peran pendidikan tanpa melihat objek manusia. Lingkaran saling keterhubungan yang tak terputus. Dengan adanya pendidikan yang diterimanya, maka manusia diangkat derajatnya diatas semua makhluk lainnya. Inilah materi pembuktian Nabi Adam saat menunjukkan dirinya lebih dari malaikat. Nabi Adam dengan illmunya bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan tentang nama-nama benda alam yang dialamatkan kepadanya saat itu.

Penulis :
AM. Narulloh, MM

Konsultan SDM dan Penulis
  am.nasrulloh@gmail.com
  facebook.com/am.nasrulloh
  @AMNasrulloh

Sebab utama mengapa pendidikan begitu berpengaruh terhadap setiap kegiatan dunia adalah karena faktor manusia. Hampir tidak ada aktivitas di dunia yang tidak memerlukan peran manusia. Bahkan peran manusia sangat menentukan dalam pelaksanaan berbagai kegiatan itu, juga ketika terjadi kemajuan teknologi yang amat pesat saat ini. Pendidikan adalah alasan manusia tetap bisa berkarya dalam lintasan zaman dan peradaban. Ilmu yang dihasilkan dari proses pendidikan adalah modal mendapatkan hampir semua hal yang mungkin diraih dalam kehidupan.

Sangat wajar, ketika Nabi Sulaiman as disuruh meminta salah satu diantara harta, kerajaan, dan ilmu, maka ia memilih ilmu. Dengannya kerajaan dan harta mengikuti kepadanya karena ilmu merupakan kunci untuk memperoleh segala sesuatu. Logika cerdas bukan?
Kini, semua orang akan menjawab hakkul yakin: “Bangsa yang maju dan modern adalah bangsa yang peradabannya unggul”. Peradaban adalah bentuk budaya tertinggi dari suatu kelompok masyarakat yang dibedakan secara nyata dari makhluk-makhluk lainnya. Peradaban mencerminkan tingkat kualitas kehidupan manusia dalam masyarakat. Dengannya kita bisa menakar bagaimana manusia bisa membuktikan dirinya sebagai makhluk yang berbudaya.

Menurut wikipedia, pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya dan masyarakat. Sedangkan Prof. H. Mahmud Yunus berpendapat, pendidikan adalah usaha-usaha yang sengaja dipilih untuk mempengaruhi dan membantu anak dengan tujuan peningkatan keilmuan, jasmani dan akhlak sehingga secara bertahap dapat mengantarkan si anak kepada tujuannya yang paling tinggi.
Memang itulah maksud pendidikan. Akhlak mulia dan tujuan tinggi menjadi orientasi pendidikan. Inilah yang harus terjaga, karena tanpanya pendidikan akan melahirkan penjahat intelektual yang bisa memberikan kerusakan ekstra parah saat kejahatannya disertai dengan kecanggihan ilmu yang dimilikinya. Alasan yang mengharuskan pendidikan wajib menghasilkan adanya akhlaq tinggi serta peradaban yang paling mulia.

Menurut kamus, adab berarti akhlak atau kesopanan dan kehalusan budi pekerti. Huntington mendefinisikan peradaban (civilization) sebagai “the highest social grouping of people and the broadest level of cultural identity people have short of that which distinguish humans from other species”. Ibnu Khaldun (1332-1406 M) melihat peradaban (umran) sebagai organisasi sosial manusia, kelanjutan dari proses tamaddun (semacam urbanisasi), lewat ashabiyah (group feeling, espritde corp), peradaban di sini didefinisikan sebagai keseluruhan kompleksitas produk pikiran kelompok manusia yang mengatasi negara, ras, suku, atau agama, yang membedakannya dari yang lain.

B.J. Habibie (2009) menjelaskan bahwa tiga tiang peradaban yang diperlukan dan dikembangkan untuk membangun peradaban Indonesia yang maju, sejahtera, mandiri dan kuat adalah manusia-manusia Indonesia yang memiliki keunggulan yaitu “HO2”, “Hati” (iman dan taqwa), “Otak” (ilmu pengetahuan), dan “Otot” (teknologi).

Pendidikan diwajibkan menghasilkan generasi yang beradab, bukan hanya generasi yang pintar. Dimensi otak namun tak disertai hati yang beradab hanya akan menghasilkan kehancuran. Pendidikan yang benar adalah yang berhasil meninggikan peradaban. Inilah sejatinya pendidikan, demi membangun peradaban bukan kepintaran.

Bahan renungan para pendidik, sudahkah memberikan pendidikan berbasis hati nurani dan dedikasi? Bahan renungan para pelajar, sudahkah memahami tujuan pendidikan sebagai media mempertinggi akhlaq mulia bukan nilai akademis semata? Bahan renungan para orang tua, sudahkan menakar hasil belajar putra/putrinya saat bertambah kebaikan budinya bukan hanya nilai tinggi ujiannya?

Karena pendidikan berpengaruh kepada peradaban, maka pastikan hasilnya adalah perbaikan peradaban.

 

[1] Joy A. Palmer, 50 Pemikir Paling Berpengaruh Terhadap Dunia Pendidikan Modern, (Jakarta, Laksana: 2010), h. 25
[2] I Gusti Agung Oka, Slokantara (Jakarta, Hanuman Sakti: 1993), h. 120
[3] Tim Penyusun, Kamus Besar Bahasa Indonesia, (Jakarta,Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia: 1988), h.5
[4] Gde Pudja, Bhagawad Gita, (Surabaya, Paramita: 2004), h. 126
[5] Pierre Bourdieu, Habitus Modal dan Ranah (Bandung: Jalasutra, 2009)
[6] Paulo Preire, Pendidikan Kaum Tertindas (Jakarta: Pustaka LP3ES Indonesia, 2008)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *