Pendidikan Sebagai Salah Satu Cara Memutus Rantai Kemiskinan

Pendidikan Sebagai Salah Satu Cara Memutus Rantai Kemiskinan

Kemiskinan merupakan fenomena global dimana setiap negara hampir mengalaminya, terutama untuk negara-negara yang sedang berkembang seperti di Indonesia. Banyak faktor kenapa kemiskinan menjadi fenomena global, diantaranya ialah pendapatan, kesehatan, letak geografis, akses barang dan jasa, serta tingkat pendidikan yang kurang memadai. Banyak program yang sudah pemerintah lakukan dalam rangka pengentasan kemiskinan di Indonesia, seperti Bantuan Langsung Tunai (BLU) maupun program-program pemerintah lainnya yang relevan, akan tetapi hal tersebut masih kurang signifikan dalam mengatasi masalah kemiskinan di Indonesia.

Penulis :
Gallyn Ditya Manggala, S.Pd., M.Si.

Dosen di Program Studi Ilmu Ekonomi dan Keuangan Islam, Universitas Pendidikan Indonesia

Kemiskinan dalam hal ini bisa juga artikan dimana seseorang tidak bisa memenuhi kebutuhan hidupnya, seperti membeli makanan dan pakaian yang layak, tidak bisanya memperoleh pendidikan yang memadai, serta tidak bisanya memperoleh akses kesehatan yng memadai guna mencapai kehidupan yang lebih bermartabat. Sementara itu menurut versi World Bank kemiskinan dapat didefinisikan ketika seseorang mempunyai pendapatan kurang dari US$ 2 per hari. Masalah kemiskinan juga merupakan salah satu penghambat pembangunan nasional suatu negara, dilangsir menurut laporan BPS pada bulan September tahun 2015 jumlah penduduk miskin di Indonesia sebesar 28,59 juta orang (11,22 persen), angka ini naik sebesar 0,86 juta orang dibandingkan pada bulan yang sama tahun 2014 yaitu sebesar 27,73 juta orang (10,96 persen). negara yang maju rata-rata mempunyai jumlah penduduk miskin tidak lebih dari 5%, berbeda dengan negara-negara berkembang yang kebanyakan jumlah penduduk miskinnya lebih dari 5 %.

Ada berbagai macam cara untuk mengatasi masalah kemiskinan, World Bank dalam hal ini memberikan 10 langkah dalam mengatasi kemiskinan yang ada, berikut diantaranya : (1) peningkatan fasilitas jalan dan listrik di pedesaan, (2) Perbaikan tingkat kesehatan melalui fasilitas sanitasi yang lebih baik, (3) penghapusan larangan impor beras, (4) Pembatasan pajak dan retribusi daerah yang merugikan usaha lokal dan orang miskin, (5) Pemberian hak penggunaan tanah bagi penduduk miskin, (6) Membangun lembaga-lembaga pembiayaan mikro yang memberi manfaat pada penduduk miskin, (7) Perbaikan atas kualitas pendidikan dan penyediaan pendidikan transisi untuk sekolah menengah, (8) Mengurangi tingkat kematian Ibu pada tingkat persalinan, (9) Menyediakan lebih banyak dana untuk daerah-daerah miskin, (10) Merancang perlindungan sosial yang lebih tepat sasaran.

Pendidikan merupakan salah satu terobosan penting guna memberantas rantai kemiskinan yang sudah terjadi, dengan pendidikan itu layaknya seperti kita menginvestasikan modal yang kita miliki dan bisa kita ambil keuntungannya kelak ketika kita sudah bekerja. Dengan pendidikan juga bisa membantu proses berfikir seseorang untuk kembali menerawang kehidupannya dan berfikir keras untuk mengatasi problema yang sedang dihadapi. Pendidikan juga dapat membuat orang bisa mandiri dalam menghadapi tantangan global yang semakin ketat dan mempertahankan kehidupannya dengan ilmu pengetahuan yang mereka miliki, serta bisa menambah produktivitas seseorang. Membahas mengenai peran pendidikan terhadap kemiskinan berarti itu diarahkan terhadap human capability (Sen, 2000), hal ini juga seiring dengan tujuan MDGs pada tahun 2015 yaitu guna mentargetkan bidang pendidikan untuk semua (Education For All, EFA). Dimana pada dasarnya tujuan dari taget ini ialah laki-laki dan perempuan dapat menyelesaikan pendidikan dasar (primary schooling), empat indikator ini bisa dilihat juga dari angka melek huruf (literacy rate), angka partisipasi sekolah (school enrollment ratio), serta rata-rata lama sekolah ( mean years of schooling) dan rasio murid laki-laki dan perempuan.

Dengan demikian peran pendidikan sangatlah penting guna memutus mata rantai kemiskinan yang ada di Indonesia, hal ini juga senada dengan apa yang diungkapkan oleh Jeffrey Sachs di dalam bukunya yang berjudul The End of Poverty, dimana didalam bukunya tersebut dikatakan bahwa salah satu mekanisme dalam penuntasan kemiskinan ialah pengembangan human capital terutama dalam pendidikan dan kesehatan (Sachs, 2005:245-265).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *