Membangun Generasi Muda yang Cerdas dan Berakhlak

Membangun Generasi Muda yang Cerdas dan Berakhlak

Globalisasi dan teknologi informasi yang berkembang dengan cepat saat ini telah membawa dampak bagi kehidupan manusia, salah satunya adalah adanya trend kehidupan yang semakin dinamis, terutama dari segi penerapan nilai dan budaya. Kondisi ini memunculkan kecenderungan permasalahan baru yang semakin beragam dan multi dimensional. Dengan kata lain, bahwa globalisasi dan perkembangan teknologi informasi tidak hanya menguntungkan tetapi juga dapat merugikan. 

Penulis :
Dr. Yusa Djuyandi, S.IP., M.Si.

Dosen Program Studi Ilmu Politik, Universitas Padjadjaran, dan Program Studi Ilmu Komunikasi, Universitas Bina Nusantara

Berdampak menguntungkan apabila mampu memanfaatkannya untuk meningkatkan taraf dan kualitas hidup. Namun juga dapat berdampak merugikan apabila terperdaya dengan pemanfaatan untuk kepentingan yang negatif, seperti misalnya yang berimplikasi secara langsung pada perubahan kehidupan dan karakter generasi muda.

Terkait dengan globalisasi dan pesatnya perkembangan teknologi informasi, muncul persoalan yang terkait dengan karakter para pemuda pada masa kini. Perilaku pemuda yang cenderung individualis dan kurang mendasarkan perilakunya pada nilai-nilai budaya bangsa menjadi sorotan tajam dalam masyarakat. Disadari atau tidak bahwa globalisasi dan teknologi informasi juga turut menyebarkan pola budaya barat (westernisasi), yang ternyata dengan sangat mudah digandrungi oleh kebanyakan generasi muda. Westernisasi yang berwujud dalam berbagai macam bentuk life style, seni, dan pola pikir telah masuk melalui berbagai macam cara, salah satunya adalah melalui media yang merupakan instrumen hasil perkembangan teknologi informasi.

Perubahan sikap atau perilaku generasi muda adalah hal serius yang perlu mendapat sorotan  dari berbagai pihak. Selain dari pada pendidik dan orangtua, media juga dituntut untuk memiliki kepedulian terhadap masa depan generasi muda. Tanggungjawab semua pihak adalah tidak hanya menjadikan generasi muda cerdas secara intelektual, tetapi juga cerdas secara emosional dan spiritual. Hal ini berarti juga bahwa perlu ada fokus terhadap upaya pembangunan akhlak generasi muda. Bahwa keilmuwan formal adalah penting, namun apa jadinya kalau ilmu yang dimiliki tidak disertai dengan akhlak yang mulia. Proses pembangunan akhlak ini juga yang akan menjadi benteng dalam memantapkan nilai-nilai budaya bangsa dari dampak negatif budaya barat atau westernisasi.

Pola pendidikan di Indonesia yang saat ini cenderung lebih mengedepankan penguasaan aspek keilmuan dan kecerdasan, namun disisi lain mulai mengabaikan pendidikan karakter harus mendapat sorotan dari berbagai stakeholder. Pengetahuan tentang kaidah moral yang didapatkan dalam pendidikan moral atau etika di sekolah atau pendidikan tinggi saat ini semakin ditinggalkan. Kalaupun terdapat mata pelajaran atau pendidikan agama, Pancasila dan karakter belum menyentuh pada level substansi penghayatan dan pengamalan, namun lebih kepada penghapalan. Dengan kata lain keberadaan mata pelajaran itu masih berkutat dengan cara mengajar siswa atau Mahasiswa menjadi hapal, bukan menjadi paham dan mengerti, sehingga polanya lebih kepada aspek formalitas.

Sebagian institusi pendidikan atau orang mulai tidak memperhatikan lagi bahwa pendidikan moral sebagai suatu hal yang substansial, dan agaknya pola ini dipengaruhi oleh metode pembelajaran dari kebanyakan negara-negara barat yang lebih mengedepankan aspek keilmuan formal. Akan tetapi sayangnya hal ini tidak berdampak baik bagi perilaku generasi muda. Dalam mengahadapi masalah yang begitu rumit dan kompleks seperti  ini maka dibutuhkan pendidikan karakter  yang dibangun melalui institusi pendidikan, yang melibatkan  berbagai elemen bangsa terlebih sebagai pemangku kepentingan. Pemantapan mata pelajaran agama, pendidikan moral dan Pancasila harus ditekankan tidak hanya dengan pengetahuan yang bersifat menghapal, tetapi juga harus melihat pada aspek penerapannya.

Generasi muda Indonesia haruslah insan yang tidak hanya berkompeten dalam dunia ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK), tetapi juga generasi yang memiliki kekuatan iman dan takwa (IMTAK) serta berperilaku moral yang luhur. Ketika aspek-aspek tersebut terpenuhi maka akan muncul generasi masa depan yang peduli terhadap kemajuan Indonesia, mampu bersaing, beretika, bermoral, sopan dan santun dalam bermasyarakat berbangsa dan bernegara. Karakter dan nilai–nilai yang sudah menyerap kedalam diri dan diaplikasikan kedalam lingkungan masyarakat juga dapat berdampak pada perilaku yang tidak melanggar norma dan nilai agama, hukum, dan budaya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *