Memandang Pendidikan Etika Sepenuh Mata

Etika menjadi bahasan serius karena di prediksi akan menjadi barang langka dalam kompetensi kemanusiaan. Etika nyaris hilang ditelan masa (seolah si ‘masa’ yang paling bersalah dengan tergerusnya etika). Walaupun lebih tepat bukan karena kejahatan masa, namun karena pergeseran nilai yang berjalan seiring bergantinya masa.

Etika tergeser karena dianggap seolah tak guna. Dipandang sebelah mata dalam tercapainya cita-cita. Harta dan tahta lebih dipopulerkan daripada terminologi etika. Dilanggar pun dipandang biasa, karena kesepakatan bersama yang seolah sudah tiada. Hanya jika berakibat pidana atau penjara saja, maka etika akan naik kelas menjadi pusat perhatian kita.

Penulis :
AM. Narulloh, MM

Konsultan SDM dan Penulis
  am.nasrulloh@gmail.com
  facebook.com/am.nasrulloh
  @AMNasrulloh

Padahal, etika akan menjadi awal diri ini berharga. Mana ada orang percaya saat kita tak beretika? Selanjutnya, bagaimana masih ada harga saat diri sudah tidak dipercaya? Kepintaran dan kekayaan saja seolah tak berguna saat tidak diisi dengan kepercayaan. Inilah fondasi, yang akan menjadi landasan pembangunan hal-hal lain yang ada diatasnya.

Istilah etika secara etimologis berasal dari bahasa Yunani, etos artinya kebiasaan (costum), adat. Istilah etika pertama kali  dalam sejarah yang tertulis diperkenalkan oleh filsuf Yunani, Aristoteles melalui karyanya yang berjudul Etika Nicomachiea. Buku tersebut berisikan tentang ukuran-ukuran perbuatan. 

Berdasarkan asal katanya, etika adalah studi terhadap kebiasaan manusia. Dalam perkembangannya, studi etika tidak hanya membahas kebiasaan yang semata mata berdasarkan sebuah tata cara (manners), melainkan membahas kebiasaan (adat) yang berdasarkan pada sesuatu yang melekat pada kodrat manusia. Kodrat manusia yang halus dan bersih seringkali dikatakan sebagai fitrah yang erat dengan konotasi moral dan susila. Sehingga etika adalah kebiasaan dalam arti moral atau kesusilaan.

Berdasarkan tinjauan tersebut, etika sering diartikan sebagai studi tentang yang benar atau salah (right and wrong) dalam tingkah laku manusia. Beberapa literatur mengatakan bahwa etika sendiri adalah cabang filsafat yang mempelajari tentang pandangan-pandangan dan persoalan-persoalan yang berhubungan dengan masalah kesusilaan (moral issue). Sehingga beberapa menyatakan bahwa etika dapat pula disebut sebagai penyelidikan yang dilakukan dengan bijaksana atau penyelidikan filosofis terhadap kewajiban-kewajiban manusia dan segala hal yang baik dan buruk (good and bad). 

Mengingat dampak dan kebutuhan mendesak terhadapnya, maka harus mulai ada gerakan besar untuk melakukan pendidikan serius terhadap etika. Harus sangat serius menyandingkan kepintaran ilmu pengetahuan dengan etika dan kesopanan. Faktanya, kepintaran tanpa etika dan kesopanan hanyalah akan menunjukkan arogansi intelektual dan kesombongan pikiran.

Langkah-langkah yang bisa diupayakan antara lain:

Pertama, pastikan etika dipandang sebagai sesuatu yang agung dan terhormat. Keluarga dan lingkungan memegang peranan yang multi penting dalam aktualisasinya. Jadikan semua terbiasa memandang bahwa kehormatan itu dibangun dengan etika dalam perilaku dan kesopanan dalam bertindak. Hal ini memerlukan usaha yang disengaja dan dipentingkan. Pendidikan etika bukan kurikulum sisipan, namun benar-benar hadir sebagai bagian dari kompetensi yang diperlukan.

Kedua, pendidikan karakter harus benar dilaksanakan dan diperjuangkan. Pendidikan karakter harus hadir dengan sengaja dan terencana. Bukan sekedar karena sudah terlalu banyak akibat sehingga dihadirkan sebagai “penolak bala”. Hal ini bisa turut memastikan bahwa lulusan lembaga pendidikan tak hanya pintar namun juga memiliki kepedulian karakter tingkat tinggi. Karakter harus didefinisikan dengan benar, dipahami optimal serta di pelajari maksimal. Bukan sekedar dikenal kulitnya itu pun hanya sepotong kecil.

Ketiga, adanya penghormatan terhadap moral. Pelakunya harus diapresiasi, pelanggarnya harus terkena sangsi. Keseimbangan apresiasi dan sangsi akan menjadikan adanya perhatian dan meningkatkan nilai ‘awareness’ terhadap keberlangsungannya. Menyusutnya perhatian terhadap nilai moral seringkali karena kurangnya perhatian terhadap pelaku dan pelanggarnya. Akhirnya dianggap biasa, jauh dari kata istimewa.

Keempat, Budaya malu harus terjamin hadir pada setiap perilaku. Etika akan hadir saat disertai dengan nilai dan perasaan malu. Malu menjadi atribut wajib hadirnya etika dalam segenap perilaku. Rasa malu akan memberikan pengawasan dan kendali terhadap etika pribadi.

Kelima, adanya kemauan seluruh pihak secara utuh. Pendidikan adalah pekerjaan ‘berjamaah’ yang keberhasilanya terjadi saat adanya pengepungan berbagai sisi dengan sukses. Semua sisi harus terkena perlakuan. Jika di lingkungan sekolah memperlakukan positif, namun di lingkungan rumah perlakuannya negatif, kemungkinan dampaknya tidak akan bombastis seperti halnya saat semua pihak memperlakukan sama.

Akhirnya langkah-langkah besar tidak akan terjadi jika tidak diawali oleh rasa mementingkan dan perhatian besar terhadap sesuatu. Salah satu awalnya lihatlah sekeliling pribadi dan fenomena negeri: “Kejahatan hampir selalu datang dari kegilaan seseorang yang tidak memiliki akal sehat, dan dari kewarasan seseorang yang tidak memiliki etika terhormat.” Jika benar pernyataan tersebut, selayaknya kita memandang sepenuh mata terhadap etika.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *