Konsekuensi minimnya apresiasi kepada insan berprestasi

Oleh Habibi Abdillah

Mr. White, seorang guru kimia SMA yang berprestasi. Hal ini ditunjukkan oleh sebuah piagam Nobel Prize yang diterimanya yang dipasang pada dinding sekolahnya. Walaupun Mr. White berprestasi, bahkan mendapatkan Nobel Prize, Mr. White hidup kekurangan dalam hal finansial. Mr. White bahkan pernah dipermalukan salah satu siswanya karena kondisinya itu. Suatu hari Mr. White diajak oleh adik iparnya yang seorang polisi, untuk melihat bagaimana proses penyergapan penjahat. Mr. White pun mengikuti adik iparnya, karena alasan untuk mengisi waktu dan untuk mengubah suasana hati yang sedang gundah memikirkan keadaan finansial. Mr. White diajak untuk melihat proses penyergapan pengedar narkoba pada suatu perumahan. Pada saat penyergapan, Mr. White menemukan bahwa salah satu pengedar tersebut adalah salah satu mantan siswanya. Namun, mantan siswanya bisa kabur dari penyergapan tersebut. Suatu malam Mr. White menemui mantan siswanya tersebut dan terjadilah perbincangan. Mr. White ternyata tertarik pada bisnis narkoba methamphetamine, karena dari hasil perbincangan diperoleh informasi bahwa uang yang dihasilkan dari bisnis tersebut sangat menggiurkan. Akhirnya Mr. White menawarkan untuk bekerjasama dalam bisnis tersebut, Mr. White sebagai pembuat methamphetamine dan mantan siswanya sebagai penjual. Singkat cerita akhirnya Mr. White menjadi pengedar narkoba yang disegani, karena barang yang dibuatnya berkualitas tinggi berkat keahliannya dalam bidang kimia.

Cerita diatas merupakan cerita fiksi dari sebuah film serial berjudul Breaking Bad, yang menceritakan seorang peraih Nobel Prize yang terlupakan, berakhir menjadi seorang pembuat dan pengedar narkoba karena alasan finansial. Kisah seperti ini mirip dengan kejadian yang ada di Indonesia, walaupun tidak seekstrim kisah di atas. Banyak anak-anak bangsa berprestasi, baik dalam tingkat nasional walaupun internasional, namun berakhir terlupakan. Sebut saja Ricky Elson, yang berhasil mengembangkan mobil listrik, namun karena alasan peraturan dan birokrasi karyanya tidak bisa diaplikasikan secara legal di Indonesia. Di negara lain, Ricky Elson mendapat sambutan yang baik [1] atas karyanya itu. Hal ini mirip sekali dengan yang ada di film Breaking Bad, keahlian Mr. White sangat dihargai di dunia gelap pengedar narkoba, karena Mr. White bisa membuat narkoba dengan kualitas tinggi. Ini salah satu konsekuensinya ketika kita melupakan prestasi seseorang, orang tersebut akan dimanfaatkan oleh orang lain, baik di jalan yang benar atau jalan yang salah. Selain itu banyak sekali atlet-atlet yang terlupakan [2], yang memang di usia mereka yang tidak muda lagi, mereka dituntut berusaha keras untuk menghidupi diri dan keluarga.

Konsekuensi lainnya adalah semakin sedikitnya role model yang bisa dijadikan contoh bagi generasi selanjutnya. Para generasi muda lebih mengenal tokoh penganut hedonisme, karena lebih sering ditampilkan di media massa. Semakin banyak anak bangsa berprestasi yang terlupakan, akan berakibat kita lupa bahwa sesungguhnya kita adalah bangsa yang hebat dan memiliki banyak prestasi.

Masalah ini sebenarnya bisa diatasi dengan adanya kepedulian dan peran pemerintah. Memang dukungan masyarakat juga penting dalam masalah ini, namun kenyataannya jika pemerintah tidak ikut andil, dukungan masyarakat tidak terlalu berpengaruh. Contohnya kasus mobil listrik Ricky Elson, karena peraturan dan birokrasi pemerintah, mobil listriknya tidak dapat di legalkan di Indonesia, walaupun masyarakat sangat mendukung. Penulis memang tidak tahu fakta sebenarnya seperti apa terkait peraturan dan birokrasi tersebut, ini berdasarkan fakta yang penulis ketahui dari sumber media televisi dan internet. Namun, penulis berharap dari masalah dan kasus yang telah bermunculan, dapat menjadi pelajaran bagi kita semua, pelajaran supaya kita tidak melakukan kesalahan yang sama di masa lalu.

Referensi
[1] Kompas
[2] Koran Sindo

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *