Sistem Perguruan Tinggi Terbaik di Dunia

Sistem pendidikan Singapura saat ini dikenal sebagai salah satu yang terbaik di dunia, tetapi juga terkenal menghasilkan “tekanan batin”.

Cherlyn Lee, seorang siswa SD di Singapura, baru berusia 11 tahun tapi telah berhasil memenangkan banyak penghargaan di kompetisi mental aritmatika, dan termasuk salah satu yang tercepat dalam berhitung.  Dia pertama kali mulai bimbingan belajar mental aritmatika pada usia lima tahun, yaitu belajar berhitung dengan menggunakan mental.

Penulis :
RDB Eka Gunawan, S.T.

  send.raden@gmail.com

Sebagian besar anak-anak pada usianya di negara lain mungkin sedang berada di taman bermain menjelajahi lingkungan mereka. Tapi ini adalah Singapura, rumah "sistem pendidikan terbaik di dunia" menurut sebuah studi yang dipimpin OECD (Organization for Economic Cooperation and Development) sejak Mei 2015, di mana orang tua mewajibkan anak-anak-nya untuk mulai mempekerjakan kemampuan otaknya.

Maka, sangat umum di Singapura jika orang tua sangat aktif untuk memasukkan anak-anak mereka ke berbagai tempat les/ kursus/ bimbingan belajar di usia yang sangat muda, dan memilih untuk menggunakan buku ketimbang taman bermain untuk media belajar anak dengan tujuan untuk memastikan dimulainya perkembangan berpikir mereka.

Ayah Cheryl, Brandon, mengatakan bahwa tujuan dari mulai belajar mental aritmatika pada usia lima tahun itu adalah karena "perkembangan otak yang tercepat dan paling kuat adalah pada usia dini". "Melalui bimbingan belajar sejak dini, anak akan siap belajar di tingkat yang lebih tinggi dikarenakan telah meningkatkannya memori dan terlatihnya konsentrasi sejak dini," katanya.

Negara-negara Asia Timur lainnya seperti Korea Selatan, Jepang dan Hong Kong menunjukkan kecenderungan yang sama juga, yaitu menggunakan metoda belajar hafalan dan menggunakan ujian rutin digunakan sebagai metode utama penilaian.

Dari Jajahan Inggris Menuju Produsen Tenaga Ahli

Dalam waktu cukup singkat 50 tahun, Singapura yang merupakan bekas jajahan Inggris saat ini sudah dapat dibilang telah berhasil menciptakan tenaga-tenaga ahli yang berkemampuan tinggi dan kompetitif untuk pasar tenaga kerja. Setengah dari penduduk Singapura saat ini merupakan lulusan universitas. Tingkat melek huruf telah meroket, dan siswa-siswi asal Singapura saat ini terkenal selalu menjadi yang terbaik di ujian-ujian internasional.

Direktur OECD (Organization for Economic Cooperation and Development) untuk pendidikan, Andreas Schleicher, mengatakan bahwa kunci keberhasilan Singapura dalam pencapaian tujuan pendidikan adalah penguasaan siswa-siswinya akan  matematika dan ilmu pengetahuan alam.

Memang, fokus pada pendidikan dapat terlihat jelas saat kita bepergian jalan-jalan di Singapura. Kita dapat melihat iklan-iklan yang menawarkan jasa bimbingan belajar (tutoring) terpampang di hampir setiap pinggiran kota.

pemandangan yang umum di singapura iklan layanan bimbingan belajar

Gambar 1. Pemandangan yang umum di Singapura: iklan layanan kelas bimbingan belajar (tutoring classes)

Surat kabar lokal Singapura, The Straits Times, melaporkan bahwa lebih dari 70% orang tua di negara tersebut mendaftar anak-anak mereka untuk kelas-kelas tambahan di luar jam sekolah untuk membantu mereka memoles bahasa Inggris dan matematika. Besar biaya yang dihabiskan untuk kelas bimbingan belajar tersebut berkisar antara  $ 150 sampai $ 250 per bulan, di mana hal ini menciptakan industri yang sangat menguntungkan.

anak ikut bimbingan belajar

Gambar  2. Seorang siswa SD di Singapura, Cherlyn Lee (kedua dari kanan), telah mengikuti bimbingan belajar tambahan sejak usia lima tahun

Di toko-toko buku Singapura, lebih dari setengah ruang lantai diperuntukkan untuk buku-buku yang memuat latihan soal-soal ujian sekolah, mulai dari tingkat pra-sekolah, sampai tingkat SMA. Buku-buku tersebut disusun berdasarkan kurikulum yang berlaku di Singapura, yang memang mengharuskan siswanya untuk selalu siap untuk berbagai jenis ujian, sedemikian sehingga dibutuhkan penguasaan terhadap variasi soal-soal ujian.

buku soal

Gambar 3. Buku-buku latihan soal di salah satu lantai toko buku di Singapura

Namun, ada kekhawatiran bahwa sistem pendidikan “super” ini terlalu berfokus pada nilai dan melupakan hal-hal yang menyenangkan dari proses belajar.

Ketika wartawan ABC mewawancarai dua remaja di sebuah SMA di Singapura, kata 'stres' sering terungkapkan dalam percakapan. Sebut saja, Nicholas Tan, 16 tahun, yang baru saja selesai ujian SMA-nya dan bercita-cita untuk menjadi pilot.

Dia mengatakan bahwa dia tidak terlalu takut untuk menghadapi ujian, tapi selama masa ujian tersebut, dia tidur hanya tiga jam sehari yang akhirnya malah berakibat sakit sebelum ujian.

Kebanyakan siswa di sekolah-sekolah pemerintah di Singapura mengambil dua ujian besar setiap tahun dan memiliki tes rutin setiap bulan untuk melihat kemajuan mereka di sekolah.

Siswa yang lainnya, Tee Shao Cong, 16-tahun, mengatakan bahwa stres dalam sistem pendidikan Singapura begitu kuat bahwa "mimpi seseorang bisa hancur dalam hitungan detik jika kita gagal".

Bergerak Menuju Sistem Pendidikan yang Lebih Seimbang

Dalam beberapa tahun terakhir, pemerintah Singapura telah melakukan beberapa langkah upaya untuk menghadapi pengelolaan tingkat stres yang dihadapi oleh siswa-siswi di negara tersebut. Pada tahun 2012, pemerintah telah menghapuskan kewajiban ujian nasional khusus untuk siswa yang berprestasi, dan berencana melakukan penghapusan ujian nasional untuk seluruh siswa yang lain.

Seorang guru bahasa Inggris di sebuah SMA di Singapura mengatakan bahwa saat ini, orientasi pendidikan di sekolah-nya tidak lagi hanya untuk akademik. “Sebagai contoh, sekolah selalu mengajak para siswa-nya untuk melakukan kegiatan petualangan outdoor seperti arung jeram”, katanya.

Dibalik keberhasilan akademik Singapura, Mr Schleicher mengatakan negara itu bisa melakukan yang lebih baik untuk menyeimbangkan prestasi ini dengan faktor-faktor penting lainnya seperti kesehatan fisik dan emosional siswa/alumni. Dia mengatakan bahwa tekanan dari sistem pendidikan adalah sesuatu yang tidak perlu. “Anda tidak perlu membenturkan pendidikan dan kesejahteraan emosional," katanya. Dia mencontohkan Finlandia sebagai contoh yang baik dari sistem pendidikan yang seimbang.

Mr Schleicher mengatakan sistem pendidikan Singapura saat ini sedang bergerak ke arah perubahan yang benar, tetapi ia menegaskan bahwa "rasa ingin tahu, kreativitas dan kepemimpinan" adalah beberapa atribut yang harus diberi perhatian lebih.

 

Referensi:
Shivali Nayak, Singapore schools: 'The best education system in the world' putting significant stress on young children, ABC News, 2016

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *