Pengaruh Media Terhadap Tumbuh Kembang Anak

Pengaruh  Media Terhadap Tumbuh Kembang Anak

Oleh: Mochammad Wahyu Ghani

Pertumbuhan otak anak

Pertumbuhan anak adalah perubahan pada berat badan, panjang badan dan lingkar kepala anak. Perkembangan anak adalah proses perubahan dimana bertambahnya kemampuan seorang anak melakukan aktivitas fisik, memahami sesuatu dengan berpikir, berkomunikasi dan berinteraksi dengan orang serta benda yang semakin kompleks. Proses ini sering diekspresikan sebagai perkembangan fisik, pola pikir, emosi serta sosial.

Dengan media sebagai objek pembahasan tulisan ini, Maka saya akan sedikit membahas tentang otak manusia, karena nantinya bagian tubuh yang paling berpengaruh terhadap perkembangan media adalah perubahan perilaku yang didasari dari otak.

Otak merupakan pusat pengontrol. Otak terdiri dari otak besar (cerebrum), otak kecil (cerebellum), diencephalon (thalamus, hypothalamus), batang otak/brainstem (otak tengah/midbrain, pons dan medulla oblongata). Cerebrum membuat manusia memiliki kemampuan berpikir, analisa, logika, bahasa, kesadaran, perencanaan, memori dan kemampuan visual. Kecerdasan intelektual atau IQ Anda juga ditentukan oleh kualitas bagian ini.

Dahulu pencapaian tumbuh kembang otak cerebrum, dipercayai akibat pengaruh genetik yang diturunkan dari orang tua serta pengelolaan anak saat dia sudah besar. Genetik memang akan mempengaruhi perkembangan, namun pengalaman yang diperoleh dari interaksi bersama orang lain pun akan memberikan pengaruh penting bagi perkembangan anak. Di sinilah letak permasalahan yang harus dihadapi orang tua di era globalisasi saat ini.

Perubahan karakter anak akibat perkembangan media teknologi dan Informasi

Pencapaian tumbuh kembang otak anak saat ini sudah tidak lagi didominasi oleh pengelolaan anak dari orang tuanya. Hal ini disebabkan media informasi yang sudah terlewat canggih. Orang tua, guru maupun siapapun saat ini beranggapan anak yang bisa menggunakan komputer, handphone/smartphone, dan sebagainya adalah anak yang pintar dan mampu menghadapi perkembangan dunia saat ini. Pendapat ini tidak sepenuhnya salah, tetapi dengan catatan orang tua maupun guru juga tidak “gaptek” dengan teknologi. Hal ini akan menjadi perubahan sosial yang negatif bagi semua pihak terutama anak jika orang tua dan guru kalah pintar dalam dunia teknologi. Saat ini sudah tidak jelas pembagian peran antara orang tua, guru dan anak. Dunia globalisasi saat ini sudah terbalik. Dahulu saya beranggapan orang dewasa apalagi guru dan orang tua adalah panutan serta orang yang paling pintar. Tetapi apa yang terjadi saat ini ?, orang tua dan guru yang malah belajar tentang teknologi terhadap anaknya. Semakin anaknya tahu teknologi, orang tua semakin senang dan menganggap anaknya pintar.

Jika pemahaman ini terus berlanjut, sang anak tidak akan lagi menganggap orang dewasa lebih pintar dari mereka. Perilaku sosial mereka akan berubah drastis, mereka akan mencari tahu sendiri informasi yang mereka butuhkan dari media yang bisa mereka gunakan ataupun teman sebaya yang ironisnya mereka anggap terkadang lebih pintar dari orang tua karena kemampuan yang lebih dari si anak dalam menggunakan teknologi. Jika sudah seperti ini, informasi yang akan mereka terima sudah tidak memiliki filter yang mampu menahan gempuran ledakan Media Teknologi dan informasi.

Kita semua mempunyai tanggung jawab memahami perkembangan otak anak, perkembangan otak anak yang terlalu ekstrem akibat media memang dapat meningkatkan IQ seorang anak. Tetapi tidak dengan karakternya. Mereka memang menjadi serba tahu, tapi tidak akan mampu membedakan mana yang benar dan salah. Untuk itu  Negara juga wajib hadir dalam pembentukan kecerdasan anak yang seimbang. Faktor pedidikan yang mengedepankan karakter sudah harus dipraktekan saat ini. Negara juga harus mampu mengontrol media teknologi dan informasi yang masuk maupun yang beredar di Indonesia.

Media Televisi adalah media yang paling dekat dengan anak.

Salah satu media yang harus dikontrol oleh Negara selain internet adalah media televisi. Saat ini media televisi juga tidak dikontrol dengan baik oleh Negara. Apakah Negara sudah lupa bahwa Televisi adalah media yang paling dekat dengan rakyat terutama anak. Saya pribadi mempunyai pengalaman yang menyenangkan sewaktu saya SD. Jika hari minggu, saya terbiasa bangun pagi dan kemudian menyetel televisi untuk menonton film kartun ditemani orang tua saya sampai jam 12 siang. Interaksi antara orang tua dan anak akan terbangun dengan baik sewaktu zaman saya kecil. Hal ini lah yang saya nilai mulai hilang dari kedekatan sang anak dengan orang tuanya saat ini. Coba saja anda nonton tv hari minggu pagi-pagi. Bisa dipastikan acara kartun untuk anak sudah mulai berkurang dan bahkan hilang akibat acara Musik yang tidak jelas kontennya dari pagi hingga siang.

Hal ini menyebabkan perubahan sosial yang cukup ektrem dari zaman saya ke zaman ‘alay’ seperti saat ini. Para ABG akan mengikuti acara musik yang tidak jelas ini, baik dari segi pakaian dan selera musik yang makin rendah. Orang tua sudah malas menonton televisi bersama anaknya dikarenakan acara kartun ataupun acara edukatif lainnya sudah mulai menghilang. Lalu bagaimana dengan sang anak??

Menurut saya hari minggu bagai buah simalakama bagi sebagian besar anak Indonesia. Jika dia tertarik dengan acara musik (yang konten musiknya malah sedikit) pada hari minggu kepribadiannya akan menjadi negative, karena sebagian anak yang menonton di hari minggu saat ini sudah tidak ditemani orang tuanya. Entah krena orang tuanya yang sibuk, atau malas menonton acara yang tidak sesuai dengan seleranya. Celakanya, apabila anak kita tidak suka menonton acara televisi, mereka akan mencari pelampiasan hiburan lain seperti, bermain gadget, internet, maupun Game yang makin tidak mengedepankan karakter untuk seorang anak.  Saat ini game-game  Point Blank, GTA dan lain-lain sedang marak-maraknya menjangkiti anak-anak Indonesia. Untuk para orang tua, apakah anda tahu game-game yang saya sebutkan dan sering anak anda mainkan tadi? Game-game tersebut adalah game yang berbau kekerasan dan seksual. Dan ironisnya sebagian besar orang tua tidak tahu game-game yang selalu dimainkan anaknya.

Kesimpulan

Kesimpulan dari semua ini adalah, apakah kita sudah sadar peran kita dalam mendidik anak. Anak memang butuh teknologi, tetapi teknogi hanya mencerdaskan IQ tidak dengan karakter. Di sini peran orang tua, guru dan Negara harus selalu hadir pada diri anak Indonesia. Salah satu tidak boleh alpha sebaliknya harus selalu sinergis. Orang tua harus mampu memahami perubahan perilaku anaknya, guru harus lebih mampu memahami teknologi dibandingkan muridnya, dan Negara harus melindungi anak-anaknya dari ledakan media teknologi dan informasi yang tidak baik bagi anak Indonesia.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *