Cerita inspirasi: Siswi Madrasah Lolos 9 Beasiswa Universitas Luar Negeri

b1

Assalamualaikum,

Frisca Intan Luzia, merupakan lulusan MAN Insan Cendekia Jambi tahun 2015. Dia menceritakan pengalaman-nya mengenai bagaimana mendapatkan tawaran 9 beasiswa di luar dan dalam negeri, diterima sekolah tinggi kedinasan dan lulus SBMPTN.

Hal yang paling krusial dialami anak kelas 12 SMA adalah memikirkan melanjutkan kuliah, jurusan apa dan dimana, bagaimana jika bertentangan dengan yang orang tua harapkan, masalah biaya, dan lain sebagainya. Apalagi bagi anak yang biasa saja seperti Frisca. Di kelas 11 dia pernah sakit hingga menyebabkan dia tidak bisa masuk sekolah selama beberapa bulan. Ketika naik ke kelas 12, dia benar-benar menyadari bahwa dia telah jauh tertinggal dari teman-teman nya. Rasanya atmosfer belajar di sekolah sangat kental karena menyiapkan Ujian Nasional dan SBMPTN. Frisca merasa minder dan terpukul, namun dia sangat ingin melanjutkan kuliah dan memahami kondisi keuangan keluarga nya, artinya dia harus berkuliah namun dengan beasiswa. Maka, dia pun segera menyusun langkah strategis, dan dia yakin Allah SWT selalu bersama orang yang bersungguh-sungguh.

Sejak saat itu, Frisca mulai rajin browsing dan mencari banyak informasi tentang jurusan, kuliah, dan beasiswa. Apa saja yang harus dia persiapkan dan memastikan deadline segalanya. Dia mulai menghitung hari secara realistis mendekati Ujian Nasional dan menghitung berapa banyak materi yang belum dia kuasai, hingga  dihadapkan oleh dua pilihan, fokus Ujian Nasional atau mempersiapkan kuliah. Pendaftaran di luar negeri sudah dimulai sejak bulan September atau Semester 1 di kelas 12. Dan berdasarkan data statistik siswa SMA yang lulus UN rata-rata mencapai 95 %, siswa SMK 97% sedangkan yang lulus SBMPTN hanya 15%. Disaat teman-teman nya serius dan benar-benar mempersiapkan diri untuk menghadapi Ujian Nasional, mengikuti bimbingan belajar di tempat terbaik hingga ke luar pulau, Frisca hanya memilih ikut bimbingan belajar gratis yang disediakan sekolah. Selain itu dia juga fokus mempersiapkan Essai, TOEFL, dan Research Proposal. Walaupun ingin juga seperti mereka namun dia harus berbesar hati. Selain karena memikirkan biaya, juga karena target dia adalah diterima kuliah dengan beasiswa, bukan lulus Ujian Nasional dengan nilai yang super. Dia tidak menyepelekan, dia juga belajar untuk UN namun target nya tidak muluk-muluk yang penting cukup untuk lulus, jika lebih Alhamdulillah. Ironi ya.

Bersama dengan teman-teman yang juga ingin mendaftar beasiswa, Frisca menyampaikan hal ini pada pihak sekolah. Diluar dugaan ternyata sekolah dan pembina asrama mereka saat itu sangat mendukung, dan inilah yang membuat mereka makin semangat. Dan Allah mulai membuka jalan, mereka diizinkan untuk mengikuti bimbingan TOEFL di sekolah. Bimbingan ini dipandu oleh Kak Amika. Beliau sering memberi bimbingan bagi anak-anak yang ingin kuliah ke luar negeri. Tentu saja banyak sekali ilmu yang mereka dapat. Masalahnya belum selesai sampai disitu, karena dari sekolah mereka belum pernah ada yang melanjutkan kuliah di luar negeri, dan itu artinya semua dokumen dan berkas-berkas administrasi harus dibuat sendiri. Sebagai anak asrama dengan keterbatasan akses keluar, internet, komunikasi dan lain sebagainya, banyak hal-hal yang rasanya sulit Frisca selesaikan, namun selalu ada jalan. Dia ingat disaat teman-teman belajar untuk try out unversitas, dia malah mengkhatamkan buku-buku TOEFL, dan Matematika. Disaat teman-teman dia larut tertidur, dia hanya bisa berdoa pada Allah dan menggarap tulisan-tulisan nya untuk persyaratan universitas sepanjang malam beberapa bulan dengan kesungguhan. Disaat teman-teman nya bisa khusyuk mengerjakan soal latihan UN, dia harus bolak-balik ke kantor sekolah mengurus legalisir transkrip nilai dan segala macam yang diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris. Dan disaat teman-teman nya pergi ke luar pulau untuk bimbel, dia malah menetap di asrama bersama 4 teman lainnya, mempersiapkan diri untuk mengikuti Ujian TOEFL. Tidak terbayangkan dalam benak dia apa yang harus dia lakukan jika tidak lulus beasiswa dan harus mengikuti SBMPTN yang katanya soalnya sangat sulit hingga menggugurkan lebih dari 80% peserta ujian.

Frisca merasa bukanlah anak yang super cerdas seperti teman-temannya, tidak juga merupakan siswa dengan prestasi segudang, namun dia memiliki dedikasi yang tinggi terhadap pendidikan, dia aktif di berbagai kegiatan dan memiliki beberapa visi dan rancangan tentang beberapa hal, dia menjadikan itu sebagai nilai jual nya saat mendaftar. Dia aktif mencari informasi dari kakak – kakak Indonesia yang sedang berkuliah di kampus luar negeri, dari kedutaan besar di Indonesia, juga dari representatif kampus.

Tidak sedikit teman Frisca yang mulanya sangat antusias mengurus beasiswa ke luar negeri namun berhenti ditengah jalan, karena segudang hal yang sulit dilakukan. Universitas luar negeri sangat selektif dan beasiswa untuk lulusan SMA masih sangat minim. Awalnya dia mencoba menghitung berapa banyak universitas yang dia daftar, namun dia menyerah karena ternyata dia terus mendaftar pada setiap peluang yang ada, puluhan kali dia ditolak, ratusan kali dia mendaftar lagi. Tidak kurang dari 20 universitas pernah dia coba.

Hingga suatu hari ada kesempatan yang diberikan oleh sekolah untuk Frisca mendaftar ke Universitas Indonesia melalui jalur undangan, betapa bahagianya dia. Tetapi dia tidak mengantongi restu Ibu nya, Ibu nya menginginkan Frisca kuliah di daerah nya saja, dia memahami perasaan Ibu namun terselip sedikit sedih sempat dia rasakan. Namun Allah berkata lain, keesokan harinya dia mendapat surat dari Rusia, yang menyatakan dia diterima di Irkutsk State University dan mereka bersedia mengurus semua berkas-berkas nya secara gratis di Rusia. Disusul surat dari Radboud University, Belanda. Tidak hanya itu, dia juga diterima beasiswa full ASEAN SCHOLARSHIP 2015 di Bangkok University International College (Thailand), Istanbul Aydin University (Turki), Northern Arctic Federal University (Rusia), Republic Macedonia Full Scholarship 2015, Eastern Mediteranean University (EMU) Full Scholarship 2015 (Cyprus), Full Sail University (Florida), Link Campus University (Italia), sebagai selected student pada Fellowship Paramadina University, Sekolah Tinggi Ilmu Statistik, dan dia lulus ujian tulis SBMPTN pilihan pertama di Universitas Brawijaya. Alhamdulillah ya Allah.

Ada beberapa hal unik yang Frisca alami, ketika dia dinyatakan diterima Beasiswa ASEAN 2015 di Bangkok University International College (BUIC) yang kuotanya hanya 4 orang se-ASEAN dan dari Indonesia hanya diambil 2 orang. BUIC memiliki kampus yang super artistik dan keren dengan teman-teman yang berasal dari lebih dari 55 negara lain dan bidang ilmu yang sangat cocok untuk dia. Namun saat itu dia menolak tawaran tersebut, dengan alasan mereka hanya memberikan beasiswa full untuk biaya kuliah saja, dan dia tidak yakin bisa memenuhi kebutuhan hidup selama disana. Dia sampaikan hal ini kepada pihak pemberi beasiswa. Diluar dugaan, mereka mengusahakan serta menawarkan tambahan biaya hidup sebesar $200-400 dan terus mengupayakan agar dia bersedia memilih berkuliah disana dan menjadi Asean Student Ambassador. Berkas-berkas yang dia perlukan pun sudah selesai mereka urus dan sudah dikirim ke Indonesia. Mereka juga bersedia menyiapkan visa gratis, penjemputan dan senior dari Indonesia yang akan membantu dia. Sama halnya dengan tawaran dari universitas di Rusia, hal menakjubkan lainnya adalah ketika ada kakak senior yang sedang berkuliah di Irkutsk University yang banyak membantu dan membimbing dia selama mendaftar, akhirnya dia mintai tolong lagi untuk menanyakan status berkas pendaftaran dia karena belum di konfirmasi. Di luar dugaan, ternyata beliau langsung bertemu dekan fakultas teknik dan setelah memeriksa dokumen nya, beliau mengkonfirmasi dan ACC berkas dia dengan tambahan, beliau menunggu nya di September depan. Normalnya, peserta beasiswa atau tidak harus membayar sekitar 350-500 USD untuk mengurus legalisir dokumen ke bahasa Rusia dan harus diurus di negara masing-masing dan dikirmkan ke Rusia setelah jadi, namun lagi-lagi dia mendapat tawaran bahwa pihak universitas bersedia mengurus semuanya dan dia hanya tinggal mengirim dokumen dalam bahasa Inggris yang dia punya tanpa membayar. Ya Allah.

Setelah nilai UN keluar, tetapi hasilnya tidak terlalu memuaskan, Frisca pun “nekat” mencoba ujian tulis sekolah ikatan dinas yaitu Sekolah Tinggi Ilmu Statistik yang kata orang sulit sekali, matematika tingkat dewa dengan pendaftar lebih dari 32 ribu siswa dan akan lulus hanya 400 siswa, artinya dia berpeluang 0,0125 % untuk lulus. Setelah mengikuti 3 tahap dengan sistem gugur dia juga tidak menyangka ternyata Allah mengizinkan dia jadi satu diantara 400 itu.

Karena saran dari Ibu nya, dia juga mengikuti ujian SBMPTN. Ini juga saat-saat terberat yang dia alami, dia tidak pernah dibekali bimbel apapun, bahkan dia tidak punya mental untuk ujian memilih universitas Jambi di daerah nya, bayangkan persaingan lulusnya hanya 4-9% untuk tiap jurusan, dan dia pun mengambil IPC yaitu campuran IPA-IPS. Dia khawatir dia tidak sanggup di IPA, miris ya. Diluar dugaan juga, Alhamdulillah dia diterima di salah satu kampus terbaik, pilihan pertama dan bidang IPA.

So, teman-teman jangan minder jika nilai UN kalian tidak tinggi, semua orang berkesempatan untuk menjadi lebih baik. Perhatikan hal-hal kecil. Orang cerdas bisa kalah dengan orang yang penuh persiapan. Semangat!

Teman-teman bisa kontak Frisca atau sharing pada salah satu akun berikut:

Facebook: Frisca Intan Luzia

Ask.fm: frisca27

Instagram: friscaintanluzia

Blog: diipoy.wordpress.com

 

Kesuksesan besar tidak akan digapai dengan usaha biasa-biasa saja, tentunya perlu kesungguhan yang luar biasa dan motivasi tinggi untuk bisa mencapainya, seperti kata pepatah “No pain no gain” atau mungkin “Wa Ma lLdzzatu Illa Ba’da Ta’abi”.

Semoga cerita inspirasi dari Frisca ini bisa membuat kalian, terutama siswa SMA, lebih semangat dan melakukan persiapan yang matang sebelum mengajukan aplikasi beasiswa.

 

Sumber:

www.indbeasiswa.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *