Cyber Bullying

Oleh M. Arif Budiman Kantawijaya

Wahai orang-orang yang beriman janganlah salah satu kaum dari kalian menghina kaum yang lain, bisa jadi kaum yang dihina lebih baik dari pada yang menghina…” (QS. Al-Hujurat [49]: 11)

Ayat di atas adalah sebuah larangan agar kita tidak saling menghina antar sesama manusia. Namun, agaknya ayat di atas sulit untuk diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari. Terlebih dengan kemajuan teknologi digital sehingga informasi tentang seseorang bisa mudah tersebar di masyarakat.

Beberapa waktu lalu, sempat viral seorang anak yang protes kepada orang tuanya karena dia kerap diejek temannya dikarenakan namanya sendiri. Awalnya kita bisa melihat fenomena ini hanya sebuah berita gurauan saja. Namun ada kecerobohan beberapa pihak yang menampilkan sosok wajah si anak yang kerap di-bully temannya itu. Sadar maupun tidak disadari, orang yang membaca artikel ini mengetahui tentang cerita bully dan sosok si anak. Merela meemperbincangkan di dunia maya dan bahkan terus diforward sebagai bahan gurauan baik itu di sosial media maupun website berita. Hal ini bisa berpotensi bullying yang tadinya cuma di sekitar lingkungan si anak meningkat menjadi cyberbullying yang berdampak lebih besar. Tidak menutup kemungkinan si anak akan semakin di-bully bahkan orang yang tak mengenal si anak bisa mem-bully-nya lewat media digital.

Salah siapakah? Apakah orang tua yang memberi nama kepada anak tersebut? Bukankah kejam orang yang mem-viral-kan si anak ini hingga jadi ejekan? Alangkah baiknya seorang muslim bijaksana dalam bersosial media. Lebih sensitif pada hal-hal yang akan disharing. Apakah ada pihak yang terhina atau tidak. Bercandalah pada batas-batas yangg wajar, tidak ada unsur penghinaan. Marilah kita berintrospeksi diri dan dewasa dalam bersosial media. Semoga kita semua dilindungi dari dosa menghina dan diberi kebijaksanaan dalam bersosial baik di dunia nyata maupun digital. Aamiin.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *