Kaitan Ilmu dan Ketakwaan

oleh Ahmad Nugraha Bayu Mukti

Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh

Sobat edumagz yang dirahmati Allah SWT, kewajiban menuntut ilmu ialah wajib bagi seorang muslim. Salah satu keutamaan bagi penuntut ilmu ialah ia bagaikan sedang berjihad Fisabilillah, dalam hadis yang diriwayatkan At-Tirmidzi, disebutkan:

“Barangsiapa keluar (dari rumahnya) dalam rangka menuntut ilmu, maka ia berada di jalan Allah hingga ia pulang.”

Sedemikian penting kedudukan Ilmu bagi pemeluk agama islam. Maka sejatinya tidak akan ada umat islam yang bodoh apabila kita senantiasa menuntut ilmu sebagai bagian dari ketaatan terhadap perintah agama atau Taqwa. Sejarah pun membuktikan bahwa umat muslim lah yang sedari awal merumuskan teknologi yang kini sering digunakan seperti aljabar, ilmu medis, ilmu falaq, dan banyak lagi penemuan-penemuan besar yang dirumuskan oleh ilmuwan muslim.

Semoga hasrat menuntut ilmu dapat kembali kepada umat islam sehingga Allah meninggikan derajat penuntut ilmu secara khusus derajat ummat islam secara umum. Penulis merumuskan dari berbagai sumber terkait dengan ilmu bahwa ternyata ilmu hakikatnya diberikan oleh Allah SWT.

Ilmu merupakan Pemberian

Salah satu dari 99 nama Allah SWT adalah Ar-Rasyiid atau dalam terjemah Bahasa Indonesia sebagai Yang Maha Pandai, memiliki Ilmu Pengetahuan yang sangat luas. Ilmu Allah sangat Luas, bahkan tak terbayangkan betapa luas ilmu Allah SWT. Dalam QS Al-Lukman ayat 31 disebutkan:

“Dan seandainya pohon-pohon di bumi menjadi pena dan laut (menjadi tinta), ditambahkan kepadanya tujuh laut (lagi) sesudah (kering) nya, niscaya tidak akan habis-habisnya (dituliskan) kalimat (ilmu dan hikmah) Allah. Sesungguhnya Allah Maha perkasa lagi Maha bijaksana.”

Beberapa redaksi dari Al-quran menyebutkan Ilmu dengan kata “diberi”, seperti:

” ….Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan, Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS Al Mujaadilah : 11)

dan ketika dia telah cukup dewasa kami berikan kepadanya hikmah dan ilmu. …” (QS Yusuf : 22)

maka Kami memberikan pengertian kepada Sulaiman; dan kepada masing-masing Kami berikan hikmah dan Ilmu, dan Kami tundukkan gunung-gunung dan burung-burung, … (QS Al-Anbiya : 74)

Dan sungguh, Kami telah memberikan ilmu kepada Daud dan Sulaiman;…(QS An-Naml : 15).

Dari beberapa ayat diatas, penulis simpulkan bahwa ilmu merupakan pemberian dari Allah SWT. Tidak lah kita memiliki ilmu walau sedikit kecuali atas ijin Nya. Hal ini menjadi bahan evaluasi bagi penulis pribadi dan diharapkan bagi pembaca edumagz yang dirahmati Allah SWT,

  1. Apakah sudah kita niatkan bahwa tujuan kita mencari ilmu ialah keridhaan Allah? Jika tidak, pantas banyak umat menghabiskan waktu belajar namun tidak kunjung mendapatkan ilmu.

  2. Apakah dalam mencari ilmu kita tidak melanggar syariat Allah? Jika proses pendidikan tidak mendekatkan pencari ilmu kepada Allah, tentu curahan ilmu akan tertahan.

Dalam Al-quran disebutkan bahwa orang yang diberikan ilmu ialah orang yang bertaqwa.

…Dan Bertaqwalah kepada Allah, Allah akan memberikan ilmu kepadamu, dan Allah Maha mengetahui Sesuatu.” (QS Al-Baqarah : 282)

Taqwa dalam bahasa Quran diterjemahkan dalam surat Al-Baqarah ayat 2 sampai 5 yaitu mereka yang beriman kepada yang gaib, menyempurnakan sholat, menginfakkan sebagian rezeki, beriman kepada Al-quran dan kitab-kitab sebelum nya dan yakin akan adanya akhirat.

Manusia yang paling bertaqwa di muka bumi ialah Rasul Muhammad SAW, dan dalam surat Al-Qiyamah ayat ke 16-19 dijelaskan bagaimana Allah memberikan beliau ilmu dalam menguasai Al-Quran.

Jangan engkau (Muhammad) gerakkan lidahmu (untuk membaca Al-Quran) karena hendak cepat-cepat (Menguasai)nya. Sesungguhnya Kami yang akan mengumpulkannya (di dadamu) dan membacakannya. Apabila Kami telah selesai membacakannya maka ikutilah bacaannya itu. Kemudian sesungguhnya Kami yang akan menjelaskannya.”

Tuntunan tersebut berlaku tidak hanya untuk Rasul Muhammad SAW saja, namun bagi semua orang yang bertaqwa. Semoga Allah menjadikan kita termasuk penulis sebagai orang yang bertakwa. Sebagai pelengkap hikmah, penulis tambahkan kisah bagaimana dengan ketaqwaan Ibnu Hajar Al-Asqalani dapat memberikan beliau ilmu yang luas.

Kisah Ketakwaan Ibnu Hajar Al-Asqalani

Ibnu Hajar Al-asqalani (Ibnu=Anak, Hajar=Batu, Al-Asqalani=nisbat kepada tempat dilahirkan) merupakan ulama besar yang berasal dari Asqalan, Palestina. Lahir pada tahun 773 H, beliau ditimpa kemalangan sejak kecil. Ayah dan ibu nya meninggal dunia pada saat usia beliau masih balita. Sejak kecil beliau diasuh oleh kakaknya. Kemalangan tersebut menjadi salah satu penyebab Ibnu Hajar sulit untuk mengikuti pembelajaran di sekolahnya bersama teman-temannya. Di sekolah, Ibnu Hajar selalu tertinggal dan kesulitan menghapal dan memahami Hadits.

Di suatu waktu, Ibnu Hajar meninggalkan sekolahnya. Hujan pun turun dengan lebatnya memaksa beliau memasuki gua untuk berteduh. Di dalam gua tersebut beliau melihat tetesan air yang jatuh dengan konsisten dapat melubangi batu (air yang lembut mengalahkan batu yang keras). Setelah kembali ke sekolah, beliau menceritakan peristiwa tersebut kepada gurunya.

Sang guru menceritakan hikmah yang merubah Ibnu Hajar, bahwa air saja dengan ketaqwaannya (air bertaqwa dengan mengikuti hukum alam yang ditetapkan Allah) kepada Allah secara konsisten dapat mengalahkan batu yang keras. Beliau pun akhirnya diminta untuk meningkatkan taqwa secara konsisten.

Di dalam cerita yang penulis dapatkan, tidak lama setelah beliau meningkatkan ketaqwaan, Allah SWT membersihkan halangan-halangan yang ada di pikiran beliau dan dengan segera beliau menguasai kitab Al-Bukhari hingga membuatkan penjelasannya (syarah) Fathul Baari. Karya-karya beliau tecatat lebih dari 270 Karya.

Kesimpulan

Pembaca edumagz yang dirahmati Allah SWT, ketaqwaan merupakan kadar kedekatan seorang hamba dengan Allah SWT dan dengan kedekatan tersebut Allah SWT memberikannya ilmu. Semoga kita termasuk orang yang diberikan ilmu karena ketaqwaan kita sebagaimana Allah SWT menurunkan ilmu kepada Para Nabi dan orang-orang bertaqwa sebelum kita dan dilimpahkan kebermanfaatan dari ilmu yang dimiliki.

Sebaik-baik ilmu berasal dari Allah SWT, jika ada kekurangan tentu merupakan kekurangan penulis pribadi. Tak lupa doa bagi para dai, ustadz, maupun kawan yang telah barbagi hikmah sehingga penulis dapat menyusun tulisan ini.

Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *