Harmoni dengan Alam

Oleh M. Arif Budiman Kantawijaya

“Telah tampak kerusakan di darat dan dilaut disebabkan perbuatan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar). Katakanlah: Adakanlah perjalanan di muka bumi dan perlihatkanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang dulu. Kebanyakan dari mereka itu adalah orang-orang yang mempersekutukan (Allah).” (QS Ar Rum : 41-42)

Kalau akhir-akhir ini udara terasa panas, cuaca dan musim yang tak tentu dan gagal panen sering terjadi, terdapat beberapa kemungkinan yang perlu direnungi bersama. Menurut peribahasa, tidak ada asap kalau tidak ada api. Di Jakarta, siaran pers Greenpeace Indonesia yang diterima di Jakarta, Jumat (16/12/2016), menyebutkan pada semester pertama 2016, tingkat polusi udara Jakarta sangat mengkhawatirkan yaitu berada pada level 4,5 kali dari ambang batas yang ditetapkan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), dan tiga kali lebih besar dari standar yang ditetapkan oleh Pemerintah Indonesia. Tidak menutup kemungkinan hal ini akan terjadi di kota besar lainnya jika kita sebagai warga dari kota tersebut tidak sadar dengan permasalahan dan tidak melakukan solusi apapun untuk menghadapi permasalahan yang terjadi dengan lingkungan kita.

Lain halnya dengan negara tetangga seperti Jepang atau Korea. Walaupun mayoritas dari mereka adalah nonmuslim, namun mereka menerapkan pesan utama dari QS Ar Rum: 41. Perencanaan tata kota yang matang dan mendesain agar bersinergi dengan alam, pengembangan teknologi dan penggunaan energi terbarukan seperti energi matahari, energi angin, energi air dan sebagainya konsisten dijalankan demi kebaikan lingkungan dan manusia itu sendiri. Secara individu pun mereka jauh lebih sadar betapa pentingnya lingkungan untuk kehidupan mereka. Dari kesadaran untuk menggunakkan bahan non plastik, menggunakan fasilitas kendaraan umum, pola hidup hemat energi dan sebagainya.

Hal-hal yang dilakukan oleh mereka yang mayoritas non muslim sedari awal, seharusnya diterapkan lebih baik sehari-hari. Apakah kita belum paham? Atau memang kita terlalu egois demi kenyamanan pribadi saja sehingga mengabaikan kelestarian alam kita. Pemerintah sudah berupaya melaksanakan berbagai program demi kelestarian lingkungan. Beberapa produk pun sudah dibuat agar lebih ramah dengan lingkungan. Tetapi sebanyak apapun peraturan dan program yang dicanangkan pemerintahan, seberapa canggih apapun teknologi ramah lingkungan produk-produk keseharian, kalau kita sebagai individu tidak memiliki kesadaran dan kemauan untuk menjaga kelestarian alam ini, terjadilah apa yang kita rasakan sekarang.

Perlu sebuah culture ramah lingkungan agar kita dapat berharmoni dengan alam. Sebuah culture tidak akan terjadi jika hanya terjadi di beberapa individu. Memang sulit untuk merubah sebuah culture yang sudah lama terjadi. Namun perubahan tidak akan terjadi kalau masing-masing dari kita tidak sadar dan tidak mau memulai.

“Sesungguhnya Allah tidak merubah keadaan suatu kaum sehingga mereka merubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.” [Ar-Ra’d/13:11].

Mulailah dari diri kita sendiri dulu, lalu kita tularkan ke keluarga dan sahabat di sekitar kita. Sebuah perbuatan besar berawal dari langkah kecil. Beberapa langkah kecil yang bisa kita lakukan untuk menjaga alam kita antara lain:

Menghemat listrik

Mungkin terdengar sepele tetapi jika masing-masing dari kita melakukannya akan menghasilkan sesuatu yang “big impact”. Banyak hal yang bisa dilakukan dalam menghemat listrik. Namun beberapa hal kadang luput dari perhatian kita. Terkadang kita suka meninggalkan charger yang tetap terpasang padahal tidak sedang kita gunakan. Mematikan lampu saat kita tidur, selain baik untuk kesehatan inipun sangat menghemat energi dan akan berefek baik buat kelestarian lingkungan

Diet plastik

Hampir setiap hari kita menggunakan plastik untuk kebutuhan sehari-hari. Padahal plastik sangat berbahaya bagi lingkungan karena bahannya sulit terurai. Langkah yang bisa kita lakukan adalah menggunakan kantong dari kain sebagai pengganti plastik. Harus dibiasakan kita selalu membawa kantung ini, bisa kita lipat dan diselipkan di tas kita misalnya.

Menggunakan transportasi umum

Hal ini memang sulit dilakukan sehari-hari karena fasilitas kendaraan umum di negara kita belum sebaik di negara lain. Namun, apakah dengan keengganan menggunakan fasilitas umum dan tetap menggunakan kendaraan pribadi akan menyelesaikan masalah. Sering mengeluh macet dan panas, padahal kita adalah salah satu agen yang menyumbang kemacetan dan global warming itu sendiri. Apakah perlu ditetapkan peraturan seperti di negara lain jika kepemilikan dan pajak kendaraan pribadi dibuat sangat tinggi baru kita mau menggunakan kendaraan umum. Seharusnya tidak perlu demikian. Mulailah dari yang kecil, luangkan beberapa hari dalam seminggu kita menggunakan kendaraan umum.

Masih banyak langkah-langkah untuk melestarikan lingkungan. Namun yang terpenting adalah bukan dari banyak caranya, namun sikap kita untuk memulai berharmoni dengan lingkungan dan konsisten dalam kehidupan sehari-hari yang diperlukan agar keharmonisan dengan lingkungan ini dapat terjadi. Insha Allah kita akan menghirup bersihnya udara, sejuknya alam dan nyamannya bumi ini jika kita dapat harmonis dengan alam.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *