Para Orangtua Milenia

Oleh Nursiddik (Arsitek)

Orang tua milenia adalah pasangan suami istri yang hidup di awal tahun 2000an yang dikatakan memiliki gaya hidup yang modern. Salah satu ciri dari orang tua milenia adalah pasangan yang memiliki kesibukan pekerjaannya masing-masing. Tidak kurang dari 10 jam perhari para orang tua menghabiskan waktunya dengan kesibukan bekerja. Bahkan kadang kala mereka membawa pekerjaan kantornya ke rumah, juga kadang pasangan suami istri tinggal di kota yang berbeda dengan alasan pekerjaan. Deskripsi tersebut kurang lebih menggambarkan kesibukan pasangan suami istri masa kini. Padahal di luar itu, tugas menjaga titipan seorang anak adalah salah satu tugas orang tua yang paling besar pertanggungjawabannya tetapi banyak disepelekan.

Untuk apa para orang tua menyekolahkan anak-anaknya?

Pada saat ini standar kebutuhan manusia akan pekerjaan terhitung sangat tinggi dibandingkan masa-masa sebelumnya. Pada saat ini pekerjaan seseorang tidak hanya dicukupkan dengan menanam padi di sawah saja, tetapi diperlukan suatu pekerjaan yang bisa memenuhi standar kebutuhan kekinian. Dimulai dari makanan yang enak, pakaian yang bermerek, tempat tinggal mewah, kendaraan sampai gaya hidup. Standar kebutuhan hidup tersebutlah yang mendorong manusia milenia saat ini begitu menekankan pentingnya memiliki pekerjaan yang mumpuni sehingga tidak heran jika para orang tua milenia menempatkan “pekerjaan yang mumpuni tersebut” sebagai tujuan nomor satu yang harus dipersiapkan ketika mereka mendidik para anak-anaknya. Padahal pekerjaan bukan satu-satunya poin penting yang harus dipersiapkan ketika seseorang akan memasuki kehidupan bermasyarakat.

Apakah sudah cukup jika seorang anak hanya mendapatkan pendidikan di sekolah?

Pendidikan merupakan salah satu aspek dari kebudayaan yang juga berkembang seiring dengan perkembangan zaman. Jika pada masa sebelumnya wajib belajar hanya cukup sampai sekolah dasar dimana hanya kompetensi membaca dan menulis saja yang diperlukan, maka saat ini wajib belajar warga negara Indonesia adalah sampai tingkat SMA. Bahkan akhir-akhir ini melanjutkan pendidikan sampai tingkat S-2 sudah merupakan sesuatu yang umum di masyarakat. Jika seseorang menyelesaikan pendidikan sampai tingkat S-2 maka orang tersebut kurang lebih sudah menempuh pendidikan selama 20 tahun selama hidupnya. Durasi waktu belajar yang cukup lama juga pengeluaran biaya yang cukup besar, hal tersebut tentunya sangatlah menyita sumber kehidupan sebuah keluarga. Dampak tersebut membentuk mindset bahwa porsi pendidikan anak sudah sangat dicukupkan melalui proses pendidikan di sekolahnya sehingga beranggapan bahwa anaknya tidak perlu diberikan pendidikan lagi di luar sekolah.

Apakah bisa menjamin keberhasilan, jika seorang anak hanya mendapatkan pendidikan hanya dari bangku sekolahnya saja?

Bagaikan bertepuk sebelah tangan, itulah perumpamaan yang tepat dianalogikan jika orang tua menjadikan pendidikan sekolah sebagai pendidikan yang utama. Hal tersebut tepat sekali, karena jauhnya perbedaan kapasitas antara keperluan ilmu yang diperlukan di masyarkat dengan ilmu yang diajarkan di sekolah. Sebagai contoh kecil saja, situasi yang umum yang terjadi di semua tempat dan jenjang pendidikan jikalau seorang siswa akan dinilai berhasil hanya jika mereka mendapatkan nilai yang baik dari suatu hasil tes ujian suatu objek pelajaran. Bahkan yang cukup miris adalah ada kalanya menjadi suatu aib jika seorang siswa mendapatkan hasil ujian yang tidak bagus walaupun diperoleh dengan cara yang jujur. Hal tersebut sangat bertolak belakang dengan yang terjadi di dalam kehidupan nyata dimana setiap kegagalan adalah gerbang menuju proses keberhasilan, bahkan tidak mungkin ada suatu keberhasilan tanpa suatu kegagalan.

Apa peran orang tua di dalam pendidikan anak, ketika seorang anak menghabiskan sebagian besar waktunya di sekolah?

Menjadi orang tua dari seorang anak adalah salah satu peran dan tanggung jawab yang cukup besar karena diperlukan kemampuan dan kecakapan yang cukup mumpuni untuk mampu mendidik dan membesarkan anak sehingga mereka mampu hidup bermasayarakat dengan penuh tanggung jawab. Banyak tantangan yang harus ditempuh, banyak rintangan yang harus dihadapi baik itu faktor intern dan juga faktor ekstern. Faktor intern terdiri dari faktor orang tua sendiri terkait dengan kapasitas dan kapabilitas dan juga faktor intern keluarga, karena kondisi lingkungan keluarga juga menjadi faktor terpenting dalam proses pendidikan di dalam keluarga. Faktor ekstern terdiri dari lingkungan sekitar rumah dan juga lingkungan sekolah. Adakalanya lingkungan luar tersebut tidak menjadi lingkungan yang subur bagi perkembangan seorang anak, bahkan adakalanya lingkungan sekolah juga menjadi pencampuran budaya yang kurang baik yang di bawa oleh masing-masing siswa yang seakan setiap siswa akan menambah pembendaharaan sikap negatif yang dikenal melalui teman-temannya. Faktor orang tua menjadi penting dalam menstabilkan situasi di dalam keluarga juga menangkal dan memperbaiki jika ada nilai negatif yang masuk ke dalam perkembangan seorang anak. Orang tua berperan juga di dalam memastikan supaya buah hatinya mendapatkan semua menu materi pendidikan yang diperlukan untuk bekal hidup bermasysarakat diantaranya mengajarkan anaknya untuk berusaha dengan jalan yang jujur dan berusaha untuk bisa bangkit dari kegagalan.

Pengaruh keluarga bagi perkembangan diri seorang anak

Buah tidak akan jatuh jauh dari pohonnya merupakan pepatah yang tepat disematkan pada perihal seorang anak yang akan menirukan orang tuanya. Secara alamiah, genetika kedua orang tua akan diwariskan kepada anak-anaknya. Sehingga tidak heran jika seorang anak akan memiliki ciri-ciri fisik kedua orang tuanya seperti warna kulit, ukuran hidung, tipe rambut dan lain-lain. Terkadang seorang anak tidak diasuh oleh orang tuanya dikarenakan sebuah alasan. Sehingga kita mengenal juga orang tua asuh: orang tua yang mengasuh seorang anak, yang secara tidak langsung orang tua asuh menurunkan sifat pada  anak asuhnya. Seorang anak akan memiliki sifat yang sangat berbeda dengan orang tua kandungnya jikalau anak tersebut diasuh oleh orang lain. Sehingga kita bisa menyimpulkan bahwa betapa penting pengasuhan seorang anak, sebagai tujuan kita membentuk sifat, mental dan karakternya yang dibutuhkan oleh sang anak untuk hidup di dalam masyarakat. Sifat, mental dan karakter seorang anak tidak datang melalui proses kelahiran melainkan hadir melalui proses pembentukan. Orang tua yang dinilai sukses di dalam hidupnya belum tentu bisa menghasilkan generasi penerus jika dia tidak mendidik anaknya dengan baik dan benar. Sehingga kita bisa membayangkan sifat seorang anak yang memiliki orang tua yang kedua-duanya disibukkan dengan kehidupan pekerjaan dan menyerahkan pengasuhan anaknya kepada para pembantu. Tentunya seorang pembantu tidak akan mempersiapkan konsep pendidikan pada anak majikannya karena memang bukan tugasnya mereka. Beruntung jika pembantu tersebut memiliki sifat pribadi yang baik, dan betapa naasnya jika ternyata pembantu tersebut memiliki sifat pribadi yang buruk yang tentunya akan ditiru oleh sang anak.

Kapan waktu yang tepat di dalam merencanakan konsep pendidikan anak?

Anak merupakan buah dari sebuah ikatan suci seorang laki-laki kepada seorang wanita dalam bentuk ikatan pernihakan. Pendidikan seorang anak dimulai dan dibentuk melalui sebuah kehidupan keluarga. Bagaikan sebuah patung yang dibuat oleh suatu mal cetakan, maka patung tersebut akan berbentuk persis mal tersebut. Dengan demikian, bentuk sifat, mental dan karakter seorang anak akan mengikuti persis dari kedua orang tuanya. Oleh karena itu sejatinya proses pendidikan dimulai dari lingkungan keluarga. Lingkungan keluarga yang baik dibentuk oleh pasangan suami istri yang sama-sama baik walaupun kedua-duanya pasti sama-sama memiliki kekurangan. Oleh karena itu sejatinya rencana pendidikan seorang anak diawali oleh seorang laki-laki ketika memilih calon istrinya.

Apa peran guru di dalam proses pendewasaan seorang anak?

Orang tua sebagai manusia biasa akan selalu dituntut sempurna dalam memberikan pendidikan bagi anak-anaknya.  Dalam proses mendidik, para orang tua tentunya akan menghadapi banyak hambatan yang salah satunya berasal dari keterbatasan para orang tua, dimana perbedaan yang terlampau jauh antara ilmu yang dimiliki para orang tua dengan luasnya ilmu yang diperlukan oleh seorang anak. Sehingga untuk menutupi kekurangan tersebut diperlukanlah tenaga yang bisa membantu perihal tersebut, yaitu spesialis tenaga pendidik. Peran dan fungsi pendidik tersebut bukan sebagai pendidik utama melainkan hanyalah untuk membantu dalam mengisi kekosongan para orang tua tetapi di dalam kehidupan masyarakat saat ini banyak terjadi kekeliruan dimana para orang tua menyerahkan sepenuhnya pendidikan kepada institusi pendidikan dan memberikan pengasuhan anak kepada para pembantunya saja.

Kesimpulan

Seorang anak bagaikan kertas putih yang kosong, dimana nilai sebuah buku akan tergantung kepada isi yang disampaikan penulisnya. Bila anak adalah kertas putih maka orang tualah sebagai penulis utamanya. Jika orang tua tidak memiliki konsep mendidik maka buku itu hanyalah kumpulan kertas yang penuh dengan tulisan tanpa ada nilai jual. Jika orang tua sudah memiliki konsep mendidik yang matang maka buku itu akan menjadi sebuah karya yang akan dibutuhkan dan dicintai banyak orang.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *