Belajar Memahami Komunikasi Antar Budaya Melalui Humor

oleh Mochammad Wahyu Ghani. S.IIP., M.I.Kom 

Di abad ke-dua puluh, para psikolog mempercayai bahwa humor adalah sifat sosial yang dipelajari. Pada awalnya para psikolog ini memiliki argumen dan teori yang mengatakan bahwa terdapat kelompok-kelompok atau suatu budaya tertentu yang tidak memiliki rasa humor. Dan hasilnya ternyata kelompok seperti ini tidak pernah ada. Kemudian para psikolog tersebut akhirnya menyimpulkan bahwa humor memang bersifat universal dan ada dalam setiap budaya. Baik itu budaya, Cina, Amerika, Jerman, Mongol, bahkan Arab menemukan sesuatu untuk ditertawakan (Charles 2001, 159). Tidak ada seorang pun manusia yang tidak pernah bercanda. Bahkan Nabi Muhammad SAW sekalipun. Abu Hurairah radhiyallahu’anhu pernah bertanya kepada Rasulullah, “ Wahai Rasulullah! Apakah engkau juga bersenda gurau bersama kami?” maka Rasulullah menjawab, “Betul, hanya saja aku selalu berkata benar.” (HR. Imam Ahmad)

Hakikat bahwa manusia memiliki selera humor juga tertuangkan dalam Al-quran “dan sesungguhnya Dia-lah yang membuat orang tertawa dan menangis” (Qs. An Najm :43). Maka dari itu, di era pentingnya berkomunikasi antar budaya seperti ini, setiap orang harus memahami humor yang berlaku di suatu kawasan tertentu yang memiliki budaya yang berbeda dengan kita. Tentu kita tidak ingin orang lain merasa tersinggung ketika kita melakukan humor yang tidak tepat, yaitu ketika sedang berkomunikasi dengan orang yang berbeda budaya. Seperti orang Rusia yang selalu menceritakan pemerintahannya yang dahulu komunis sebagai lelucon tetapi jika orang di luar Rusia yang menceritakannya mereka akan marah, dan apa jadinya jika awalnya ketika kita datang ke Rusia dan mengetahui bahwa hal tersebut adalah lelucon dan kemudian ikut melontarkan humor yang sama padahal kita bukan orang Rusia. Atau Orang Jerman yang menjadi humoris ketika sedang pesta minum kepada siapa saja tapi tidak ketika menjalankan komunikasi formal seperti berbisnis dan mengajar. Tentu akan terjadi hal yang buruk apabila kita juga melontarkan lelucon pada saat berbisnis kepada orang Jerman yang awalnya kita kenal pertama kali pada saat diundang pesta.

Intinya mempelajari komunikasi antar budaya itu penting guna memahami humor sebagai bagian dari suatu budaya tertentu. Seperti kata Dedy Mulyana dalam bukunya Komunikasi antar budaya (2010, 24) “ Hubungan antara budaya dan komunikasi penting dipahami untuk memahami komunikasi antar budaya, oleh karena pengaruh budayalah orang-orang belajar berkomunikasi”.

Kebanyakan orang selalu menceritakan lelucon yang menyakitkan hati, karena tidak kesengajaan, bukan karena niat jahat. Untuk itu pemahaman humor antar budaya adalah suatu hal yang penting diketahui jika kita ingin sukses berkomunikasi dengan orang yang memiliki latar budaya yang berbeda. Penulis bukanlah orang yang ingin melarang bersikap humoris kepada orang lain yang berbeda budaya. Tetapi kebalikannya, penulis ingin agar pembaca menerapkan selera humor pada saat waktu dan kata-kata yang tepat kepada orang yang memiliki latar budaya yang berbeda. Karena nyatanya humor juga dapat membuat suatu komunikasi antar budaya berjalan efektif.

Contohnya seperti almarhum Gusdur mantan presiden RI ke-4 yang mampu membuat para pemimpin dunia tertawa seperti Raja Fahd dari Arab Saudi. Gusdur pernah bertemu Raja Fahd guna membebaskan TKI yang terancam di hukum pancung. Di sela-sela pertemuan formal tersebut, beliau sempat melontarkan lelucon yang membuat Raja Fahd tertawa terpingkal yang menurut pandangan Islam tertawa terpingkal hukumnya ‘makruh’.

Usut punya usut ternyata Gusdur mengatakan bahwa hanya Raja Fahd satu-satunya Raja Arab Saudi yang tidak beristri dua. Tentu saja lelucon itu membuat Raja Fahd tertawa dan mencairkan suasana pembahasan pembebasan TKI yang terancam di hukum pancung, dan hasilnya TKI tersebut tidak jadi dihukum. Humor yang dilontarkan Gusdur tentu bukan humor sembarangan. Beliau mengetahui bahwa humor yang dapat membuat orang Arab bangga adalah humor yang paling efektif. Dengan timing yang pas, humor tersebut dapat mencairkan susasana pertemuan formal itu.

Jika kita dapat memahami budaya orang lain yang sedang menjadi lawan komunikasi kita, tentu proses komunikasi kita kepada komunikan (pendengar) akan berlangsung lancar. Budaya dan komunikasi tak dapat dipisahkan oleh karena budaya tidak hanya menentukan siapa bicara dengan siapa, tentang apa, dan bagaimana orang menyandi pesan, makna yang ia miliki untuk pesan, dan kondisi-kondisinya untuk mengirim, memperhatikan dan menafsirkan pesan (Dedy 2010, 19). Oleh karena itu kita wajib mempelajari budaya lawan komunikasi kita untuk menentukan humor yang efektif dan tepat guna.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *