Pendidikan Membentuk Karakter Bangsa

Oleh Nursiddik (Arsitek)

Krisis Karakter

Pada masa dewasa saat ini, bangsa Indonesia sedang dihadapkan pada kondisi krisis karakter Para Pemuda seharusnya merupakan agen penerus bangsa. Para pemuda saat ini banyak yang sudah terkontaminasi oleh pemahaman-pemahaman yang sifatnya dekonstruktif diantaranya konsumtifisme, hedonisme, kriminalisme dan lain-lain. Pemahaman-pemahaman negatif tersebut bisa dengan mudahnya masuk kedalam kehidupan pemuda dikarenakan kekosongan keyakinan dalam dirinya sehingga pengaruh negatif tersebut otomatis mengisinya. Saat ini banyak ditemui praktek-praktek dari pemahaman negatif tersebut dan paling sering diberitakan adalah terkait dengan aksi tawuran antara pelajar SMA di wilayah Jakarta yang seolah-olah menjadi budaya yang turun-menurun.

Negara sebagai satu identitas perlu menjaga keberlangsungannya dengan mempersiapkan generasi penerus dengan menciptakan sistem pendidikan yang menyiapkan manusia kecil menjadi manusia besar. Oleh karena itu kondisi pemuda saat ini murni merupakan evaluasi dari sistem pendidikan yang berlaku di negara ini.

Sistem Pendidikan

Sistem pendidikan yang diterapkan di negara ini hanya menitik-beratkan pada pengelolaan akal pikiran saja, dan itupun hanya sebatas pada penyampaian informasi. Seolah-olah anak didik dipersiapkan untuk menyimpan data ilmu tanpa ditunjang kemampuan mengelola logika berpikir. Sistem tersebut berjalan di semua jenjang pendidikan dari mulai tahapan SD sampai SMA, dari ilmu pengetahuan alam sampai ilmu pengetahuan sosial.

Metode pengajaran pun sejalan dengan sistem pendidikan yang diterapkan, dimana para pengajar seolah-olah hanya bertanggung jawab kepada ketersampaian materi ilmu saja tanpa adanya proses bimbingan, penempaaan dan pendampingan. Padahal manusia merupakan makhluk pembelajar dimana suatu pemahaman atau kesuksesan tidak akan bisa dicapai hanya dalam satu kali proses belajar sehingga manusia senantiasa memerlukan bimbingan selama hidupnya.

Pada tingkat akhir tahapan pendidikan, penulis dan lingkungan sekitarnya sebagai salah satu hasil pendidikan merasakan kejenuhan, kurangnya kreatifitas dan kurangnya daya imajinasi disebabkan terlalu banyaknya informasi yang masuk tanpa kemampuan pengelolaan yang baik. Otak manusia seolah-olah seperti memori handphone yang sudah penuh sehingga tidak bisa menyimpan data lebih lanjut. Hal tersebut dikarenakan terlalu banyaknya informasi yang masuk tanpa adanya proses pemahaman. Padahal salah satu potensi manusia adalah kemampuannya dalam berpikir dan menganalisa.

Era Globalisasi dan Digital

Pada masa era globalisasi dan digital saat ini, semua sisi bumi sudah saling terhubung antara satu dengan yang lainnya, baik itu keterhubungan dalam fisik (dengan jangkauan transportasi yang sudah sangat cepat) maupun keterhubungan dunia maya (koneksi internet). Saling keterhubungan tersebut akan meningkatkan tingkat interaksi diantara unit individu ataupun unit negara sehingga akan meningkatkan proses saling mempengaruhi yang akan meningkatkan persaingan global antar bangsa. Persaingan gelobal tersebut masuk kedalam beberapa aspek, diantaranya aspek pengaruh melalui budaya dan aspek ekonomi. Aspek pengaruh budaya akan saling terkait dengan aspek ekonomi karena penyebaran pengaruh suatu budaya tertentu akan memudahkan pemasaran produk yang diciptakan oleh produsen dari mana budaya tersebut berasal. Seperti strategi pemasaran produk Jepang dan Korea diawali dengan kampanye budaya di negara tujuan pasar.

Indonesia merupakan negara peringkat ke-tiga dengan jumlah penduduk terbanyak di dunia. Maka Indonesia merupakan sasaran empuk untuk dijadikan target pemasaran. Oleh karena itu tidaklah heran semua negara berbondong-bondong untuk memperkenalkan budaya mereka kepada masyarakat Indonesia. Bangsa luar tidak hanya berlomba-lomba dalam memberikan pengaruh budayanya saja tetapi juga berlomba-lomba memberikan beasiswa kepada putra-putri terbaik bangsa sehingga diharapkan mereka menjadi penghubung bagi disebarkannya ilmu pengetahuan dan teknologi yang mereka kuasai untuk dijual di negara ini.

Era globalisasi dan digital saat ini menghadirkan tantangan yang lebih besar dan lebih kompleks dibandingkan 72 tahun sebelumnya, sehingga bangsa Indonesia ini perlu dipimpin oleh generasi yang tidak hanya sebatas memiliki ilmu pengetahuan saja, tetapi juga manusia yang memiliki daya pikir untuk memahami situasi, memecahkan masalah dan membawa bangsa ini ke jalur kejayaan. Jika negara ini tidak mampu menyiapkan generasi penerus yang bermutu, maka negara ini bisa tergelincir kembali kemasa penjajahan pada era yang berbeda.

Potensi Manusia

Manusia dilahirkan ke dunia ini dalam kondisi yang sempurna untuk mampu memimpin, memakurkan dan menebarkan keadilan di muka bumi ini. Manusia diciptakan dengan dibekali tiga potensi diri yaitu potensi rohani, potensi akal dan potensi jasadi. Dengan rohani manusia mampu mempunyai cita-cita, dengan akal manusia mampu berpikir, dengan jasadi manusia mampu bergerak. Sejatinya pendidikan haruslah mampu menempa ketiga potensi tersebut secara sinergi dan menjadikan kehidupan sebagai objek pembelajaran. Sedangkan ilmu pengetahuan dan teknologi adalah bagian di dalamnya.

Manusia yang pintar dan cerdas saja tidak bisa menjadi sukses tanpa ditunjang dengan kemampuan rohani yang baik. Karena suatu langkah kesuksesan selalu dilengkapi dengan kegagalan. Sedangkan kegagalan harus disikapi dengan kesabaran dan kesabaran adalah bagian dari kecerdasar rohani. Misalkan seseorang yang mempunyai suatu penemuan ilmu pengetahuan atau teknologi tertentu haruslah melakukan serangkaian percobaan yang panjang yang kegagalan akan selalu menjadi bagian dari perjalanannya. Oleh karena itu bekal ilmu pengetahuan saja tidak cukup untuk mempersiapkan generasi yang unggul di era saat ini.

Pendidikan Sejati

Manusia kecil dinilai mulia karena memiliki bekal 3 potensi diri yang melekat didalamnya, tetapi manusia besar dinilai mulia karena apa yang sudah dilakukannya. Oleh karena itu diperlukan proses penempaan pada ketiga potensi diri manusia tersebut. Di dalam diri manusia terdapat dua kecenderungan, yaitu kecenderungan pada hal yang baik dan juga kecenderungan kepada hal yang buruk. Jika kecendrungan hal yang baik tidak dilatih, maka kecendrungan yang buruk akan berkembang. Sehingga proses pendidikan sejatinya tidak hanya terkait pada pemberian materi ilmu pengetahuan saja, tetapi juga terkait pembentukan individu manusia tersebut sehingga mampu mengembangkan sisi baik dalam dirinya. Dengan demikian, manusia tersebut akan menjadi individu yang matang yang memiliki prinsip hidup, jati diri dan harga diri sebagai manusia. Manusia tersebut akan mampu memilah diantara hal yang baik dan hal yang buruk dan akan mampu menempatkan idelisme hidupnya diatas hawa nafsunya. Maka akan dilahirkan jiwa yang pintar, benar, terpercaya dan pemimpin di dalam lingkungannya.

Kesimpulan

Di masa modern ini, untuk mampu bersaing dengan bangsa-bangsa lainnya didunia ini, Indonesia haruslah memperbaiki sistem pendidikan yang ada menjadi sistem pendidikan yang mampu menghasilkan manusia yang berkarakter.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *