Bekerja Proporsional Menurut Islam

Oleh M. Arif Budiman Kantawijaya

Bekerja di sebuah perusahaan dengan nama yang besar dan mempunyai reputasi baik adalah dambaan setiap orang. Fenomena ini bisa dilihat ketika ada event lowongan kerja dimana para pelamar kerja rela berdesakan, meluangkan waktu dan tenaga untuk mengincar pekerjaan impian mereka. Pada dasarnya, setiap orang cenderung mendambakan kestabilan finansial.

Fenomena ini kelihatannya bagus. Ini menunjukkan ternadinya perkembangan ekonomi yang terjadi. Namun sangat disayangkan ketika dibalik perkembangan industri ini, ada hal negatif yang banyak terjadi. Hal tersebut adalah overwork. Overwork adalah sebuah kondisi dimana seseorang menggunakan waktu kerja di atas waktu ideal kerja. Ideal-nya dalam 24 jam, ada 3 pembagian waktu, di antaranya waktu untuk tidur, waktu istirahat dan waktu bekerja. Dalam Islam pun, Allah SWT telah mengatur waktu yang baik untuk hamba-Nya. Seperti tertulis di dalam Quran surah Al Qasas ayat 73, “Dan karena rahmat-Nya, Dia jadikan untukmu malam dan siang, supaya kamu beristirahat pada malam itu dan supaya kamu mencari sebahagian dari karunia-Nya (pada siang hari) dan agar kamu bersyukur kepada-Nya”.

Banyak kasus kematian tidak wajar yang diakibatkan oleh overworking. Gangguan kesehatan pun dapat terjadi karena overworking, mulai dari kelelahan hingga penyakit jantung yang mematikan. Dari sisi psikologis pun, seseorang yang bekerja overwork cenderung memiliki stres yang lebih tinggi karena tekanan dari pekerjaannya dan waktu tidur yang kurang. Tidak hanya mempengaruhi kehidupan personal, seseorang yang sudah mempunyai keluarga pun akan mengalami kekurangan keharmonisan kehidupan berkeluarga karena kurangnya interaksi dengan anggota keluarga karena tersitanya waktu untuk bekerja.

Perusahaan mungkin melihat karyawan yang bekerja lebih sebagai karyawan teladan atau loyal pada perusahaan. Tidak salah juga kita sebagai karyawan berdedikasi pada perusahaan. Namun perlu diingat, cobalah untuk bijak dan proporsional dengan keloyalan kita pada perusahaan. Sejatinya kita mesti mencintai perkejaannya bukan perusahaannya, karena kita tidak tahu kapan perusahaan akan berhenti mencintai kita. Bekerjalah untuk mencukupi kebutuhan dan jangan berlebihan.

Tentang rezeki, Allah sudah mengaturnya. Kita sewaktu masih kecil belum mampu berbuat apa-apa dibandingkan kita saat ini yang sudah memiliki keahlian saja sudah dijamin dan diberi rezeki oleh Allah SWT. Untuk itu tidak perlu takut akan seret rezeki jika kita ingin memutuskan keluar dari sebuah perusahaan yang iklim kerjanya overwork. Karena sejatinya kita bekerja untuk hidup, bukan hidup untuk bekerja. Hidup itu adalah untuk beribadah. Bekerja hanyalah sebagian kecil dari ibadah kita pada Allah SWT. Semoga Allah SWT merahmati, memberi keberkahan dan kelancaran rezeki pada kita semua.