Tahun Baru

Beberapa waktu lalu, perayaan tahun baru masehi dirayakan meriah. Berbagai aktivitas seperti kembang api, meniup terompet, makan bersama, panggang daging (bbq) dan lain sebagainya dilakukan orang pada umumnya. Begitupula dengan beberapa teman muslim adapun yang menyikapi dengan melakukan muhasabah bersama. Sayangnya aktivitas yang bermanfaat seperti muhasabah ini masih sedikit dilakukan oleh orang-orang terutama di Indonesia yang mayoritas muslim. Astaghfirullah, ada beberapa dan mungkin banyak malah melakukan dosa seperti minum-minum dan makan makanan yang diharamkan dan melakukan kemaksiatan dalam merayakan pergantian tahun ini.

Jika kita pikirkan secara mendalam, momen pergantian tahun ini, terlepas dari masehi (tradisi nasrani), ada hal yang harus kita telaah. Seperti dijelaskan dalam Quran dalam surat Al Ashr dimana manusia itu merugi dengan waktu. Namun ada pengecualian buat orang yang selalu mengingatkan pada kebenaran dan kesabaran. Berkaca pada waktu yang telah dilewati, bagaimana amal kebaikan kita, apakah sudah cukup atau malah banyak berbuat maksiat? Jika kita pikirkan perhari, bagaimanakah komposisi aktivitas kita? Bagaimana perbandingan antara amal ibadah, perbuatan sia-sia dan perbuatan maksiatnya? Lalu apakah kita sudah benar-benar bersyukur dengan amanah waktu yang Allah SWT beri pada kita hingga sekarang? Masihkah kita bersantai-santai padahal kita tidak tau kapan deadline umur kita masing-masing.

Jika pemikiran-pemikiran tadi telah ada, mungkin kita akan menghadapi momen pergantian waktu ini dengan hal yang berbeda. Mungkin sebagian kita ada yang benar-benar menyesal dan bersedih karena setelah muhasabah diri dia mendapatkan rapor negatif di tahun sebelumnya. Justru momen-momen yang berhubungan dengan waktu seperti ini harus menjadi “trigger” agar kita segera ingat dan moving on untuk menjadi pribadi yang lebih baik dari waktu yang lalu. Hingga ketika saatnya kita dipanggil tidak ada penyesalan dalam diri akan amalan-amalan yang kita lakukan selama hidup.