Allah SWT Mendidik Manusia Dengan Takdir

Oleh Nursiddik

Maha Pendidik

Allah Maha Pendidik yang mendidik manusia dengan takdir-Nya. Allah SWT Maha Pengasih dan Maha Penyayang tidak akan mendidik manusia dengan beban yang melebihi kapasitasnya.

Perjalanan Hidup Manusia

Perjalanan hidup manusia diibaratkan langkah pendakian gunung. Manusia berencana mendaki gunung karena gunung tersebut ada di dunia ini. Jika gunung tersebut ada, maka tentunya jalan muju puncaknya pun ada, hanya saja tidak semua orang mengetahuinya. Orang menjadi tahu dikarenakan sudah pernah mengarunginya atau sudah diberitahu oleh orang lain. Kadang manusia tersesat di dalam perjalanan yang bisa jadi disebabkan faktor kesengajaan atapun tanpa disengaja karena memang kondisi jalan akan senantiasa berubah kondisinya. Dengan bentuk permukaan bumi yang seiring jarak akan semakin curam, maka perjalanan pendakian pun akan semakin sulit. Kondisi udara disekitar puncak pun kadang kurang bersahabat seperti angin yang kencang, suhu udara yang dingin dan kadang sampai bersalju. Perjalanan pendakian gunung bukanlah perjalanan yang mudah tetapi juga bukan merupakan misi yang tidak mungkin. Manusia bisa sukses dalam pendakian bilamana niat sudah diucapkan, persiapan sudah disempurnakan, tekad dikuatkan, langkah yang optimis, sabar ditebalkan, tawakal dihidupkan, doa dipanjatkan, membuang hal-hal yang tidak diperlukan, selalu perbaharui niat karena godaan selamanya membuntuti dan selalu bersyukur setibanya di setiap titik tujuan.

Perjalanan kehidupan manusia diibaratkan sebagai pendakian gunung karena bentuk perjalanannya yang memiliki kemiripan. Jika perjalanan pendakian diawali dari posisi landai menuju puncak maka perjalanan kehidupan diawali dari perjalanan sebagai anak kecil sampai orang tua. Jika seiring jarak kondisi pendakian semakin curam, maka perjalanan hidup manusia pun seiring waktu berjalan akan semakin kompleks. Manusia sudah diberikan panduan dalam perjalanan hidupnya tetapi kadang manusia tersesat karena disesatkan, tetapi kadang kala mereka menyesatkan dirinya sendiri karena tergoda dengan tujuan lain di tengah perjalanannya. Semakin tinggi level pendakian maka kondisi medan perjalanan pun akan semakin sulit, dimana kondisi sulit tidak hanya disebabkan medan yang sulit tetapi juga banyak faktor lain yang mempengaruhinya dan kadangkala tidak bersahabat dengan perjalanan tersebut. Kondisi perjalanan yang sulit merupakan konsekuensi untuk menuju puncak, maka kondisi kehidupan yang sulit merupakan konsekuensi menuju hidup bahagia. Kondisi hidup bahagia bukanlah perjalanan yang mudah tetapi juga bukan merupakan hal yang tidak mungkin. Manusia bisa sukses di dalam perjalanan bilamana tujuan sudah ditetapkan, niat sudah diucapkan, persiapan sudah disempurnakan, tekad dikuatkan, langkah yang optimis, sabar ditebalkan, tawakal dihidupkan, doa dipanjatkan, membuang yang tidak diperlukan dan selalu perbaharui niat karena godaan selamanya membuntuti.

Diantara perbandingan antara pendakian gunung dengan perjalanan hidup manusia terdapat perbedaan yang sangat mendasar, yang dimana pendakian gunung merupakan opsi kegiatan yang bisa dipilih manusia, jadi seseorang bisa memilih untuk melakukan pendakian gunung atau pergi ke pantai sedangkan perjalanan hidup manusia merupakan ketetapan hidup yang harus dijalaninya dan tidak bisa dihindari karena manusia sudah terlahir kedunia ini. Jika perjalanan pendakian gunung merupakan perjalanan dari landai menuju puncak, maka perjalanan hidup manusia merupakan perjalanan dari proses kelahiran menuju kematian.

Ketetapan-Nya

Waktu terus bergulir tanpa kuasa manusia mampu menahan lajunya. Jika kehidupan manusia diibaratkan pendakian gunung, maka sejatinya hidup manusia adalah suatu perjalanan. Ketetapan yang terjadi pada setiap manusia merupakan takdir yang sudah digariskan oleh Allah SWT. Semenjak di Lauhul Mahfudz manusia sudah ditetapkan rejeki dan jodohnya oleh Allah SWT, ditetapkan waktu kelahiran dan matinya. Dimana dan bagaimana kondisi setiap insan manusia saat ini merupakan ketetapan-Nya juga. Kadangkala manusia hanya mampu merencanakan tetapi tanpa kuasa, Allah SWT berkehendak lain pada hasilnya. Setiap manusia akan selalu berencana, melakukan perhitungan lalu mengambil tindakan supaya terjadi apa yang menjadi keinginannya, tetapi kadangkala Sang Khaliq berkehendak lain karena Dia tahu apa yang terbaik baik makhluk-Nya. Kadangkala hal tersebut seolah-olah buruk dinilai makhluk-Nya karena kebodohan yang melekat pada dirinya. Jika keadaan memaksakan manusia untuk masuk ke dalam suatu keadaan yang tidak dia inginkan, bisa jadi hal tersebut merupakan suatu penyelamatan. Jika keadaan memungkinkan manusia selalu mendapatkan semua yang dia inginkan, bisa jadi hal tersebut merupakan suatu penelantaran. Manusia seharusnya senantiasa menilai dirinya apakah dia sudah pada jalan yang lurus atau tidak? Pertanyaan tersebut harus selalu ditanyakan mengingat suatu pernyataan : “perjalanan yang sulit akan dinilai baik jika akhir perjalanan baik, sedangkan perjalanan yang mudah akan dinilai buruk jika akhir perjalanan buruk.”

Realita

Diceritakan seorang anak dilahirkan pada suatu lingkungan keluarga yang miskin dan hidup pas-pasan. Hidup di desa terpencil dan terisolir sehingga tidak ada kendaraan umum yang mampu menjangkaunya. Singkat cerita kedua orang-tuanya tidak mampu membiayai pendidikan lanjut menuju perguruan tinggi. Tetapi takdir berkata lain, dia pada akhirnya mendapatkan bantuan dari kerabat-kerabatnya untuk melanjutkan Pendidikan. Perjalanan dalam menempuh pendidikan dilaluinya dengan tidak mudah, bahkan dia sudah tidak bisa berkonsentrasi pada pendidikannya karena sibuk mengurusi pemenuhan hidup dan sewa tempat tinggalnya. Setiap hari kehidupan dia lalui dengan berjualan segala hal supaya mampu untuk menyambung kehidupan. Kehidupan tersebut dilaluinya sampai pada akhirnya dia mampu menyelesaikan tugas akhirnya dan mendapatkan gelar sarjana pertanian. Jika sebagian besar rekannya yang menjadi sarjana pertanian disibukan dengan membanting setir untuk bekerja di perkantoran yang tidak ada kaitannya dengan keilmuannya justru dia disibukkan dengan berbagai tawaran untuk mengelola bisnis pertanian oleh para dosen dan kolega-koleganya. Orang-orang tersebut terkesan dengan keuletan, kejujuran dan visi dalam hidupnya, sehingga mereka tidak ragu-ragu untuk memberikannya kepercayaan.

Hikmah yang bisa diambil dari ilustrasi di atas bahwa jika manusia sudah benar dalam menetapkan tujuannya dan menjalaninya dengan penuh perjuangan dan keikhlasan maka mereka akan mendapatkan puncak kehidupan yang abadi di dalamnya yang daripadanya manusia bisa melihat langkah perjalanan hidupnya yang indah, pandangan yang semua baik, dan perasaan bahagia yang tidak ada batasnya dan darinya manusia bisa melihat seluruhnya yang dia harapkan.

Kesimpulan

Segala yang terjadi di dalam kehidupan ini merupakan takdir dari Allah SWT. Jika manusia menerima dengan rasa syukur maka akan ada pelajaran yang bisa diambil sebagai bekal kehidupan selanjutnya sehingga kehidupannya akan senantiasa berjalan lebih baik. Sangat disayangkan jika manusia tidak menerima takdir, karena waktu yang sudah dilaluinya akan bernilai sia-sia dan tidak berarti apa-apa yang akan berdampak pada hati yang kosong dan sempit. Walaupun manusia menolak suatu takdir, maka dia tidak akan merasakan ketenangan di dalam hidupnya, karena cobaan yang lainnya akan terus menghampiri tanpa dia mampu menghindarinya. Beruntunglah seseorang yang hari ini lebih baik dari hari kemarin, merugilah seseorang yang hari ini sama dengan hari kemarin dan celakalah orang yang hari ini lebih buruk dari hari kemarin. Oleh karena itu, sepatutnya setiap manusia senantiasa bersikap optimis di dalam hidupnya, karena Allah SWT berfirman didalam Alquran surah Ar-Ra’d ayat ke 11 :

sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sebelum mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri

Allah SWT tidak akan menurunkan ilmu-Nya sebelum manusia tersebut ikhlas dalam menerima ketetapan-Nya.