Artificial Intelligence, Masa Depan Peradaban Baru Manusia?

Oleh Sutani, S.T. (Programmer)

Mungkin kita sudah sering mendengar istilah Kecerdasan Buatan (Artificial Intelligence, AI), dan bahkan kita sebenarnya sudah sering memanfaatkannya dalam keseharian kita, mislakan seperti Google Assistant. Tetapi apa sebenarnya Kecerdasan Buatan itu? Apakah itu merupakan peradaban baru manusia?

Pengertian Kecerdasan Buatan (Artificial Intelligence, AI)

Kecerdasan Buatan lebih sering disingkat dengan istilah AI. Jika kita merujuk kepada beberapa sumber, terdapat beberapa pengertian mengenai AI. Menurut kamus britannica, AI adalah kemampuan komputer digital atau robot yang dikendalikan komputer untuk melakukan sesuatu tugas yang sebelumnya hanya dapat dilakukan oleh manusia, di mana dibutuhkan kecerdasan. Kecerdasan yang dimaksud adalah karakter proses intelektual manusia, seperti berpikir, menganalisa, mempelajari dan mengenali pola, menggeneralisasi, memprediksi, dll. Wujud nyata dari AI itu sendiri sebenarnya adalah software atau perangkat lunak yang ditanamkan dalam sebuah mesin atau komputer.

Pada saat ini, AI masih bersifat sempit atau dapat disebut dengan AI lemah. Mengapa AI zaman sekarang masih tergolong dalam AI lemah? Karena AI saat ini masih diprogram atau dibuat untuk memenuhi tugas yang khusus atau spesifik yang termasuk dalam tugas yang sempit, seperti hanya melakukan pencarian di internet, pengenalan wajah,waktu,dll. Oleh karena itu, AI masih dikembangkan untuk mencapai tingkat AI umum, dimana kecerdasan buatan ini diharapkan dapat melakukan banyak hal, seperti memecahkan permasalahan kompleks dan memiliki kecerdasan di atas manusia. Suatu saat, AI umum diprediksi akan dapat mengalahkan kecerdasan manusia dalam segala bidang.

Perkembangan AI

Konsep Artificial Intelligence sebenarnya sudah jauh dipikirkan, bahkan sejak zaman Yunani Kuno. Talos dari Crete, robot perunggu dari Hephaestus, dan Galatea dari Pygmalion menjadi beberapa contoh ide “mesin yang hidup” yang dicetuskan di era tersebut. Walau begitu, konsep dari Artificial Intelligence ini baru sekitar setengah abad lalu berubah dari hanya sebuah mitos menjadi sebuah realitas yang faktual.

Alan Turing, seorang ahli matematika sekaligus pemecah kode di Perang Dunia ke-2 dari Inggris menjadi salah satu tokoh yang paling berpengaruh dalam pencetusan ide tentang teknologi “kecerdasan buatan” pada tahun 1950. Melalui ide-idenya saat itu, istilah artificial intelligence cukup populer pada pertengahan tahun ’50-an. Bahkan hingga Turing meninggal pada tahun 1954, istilah tersebut masih menjadi perbincangan hangat di kalangan peneliti saat itu.

Seorang ilmuwan kognitif Amerika bernama Marvin Minsky akhirnya memutuskan untuk meneruskan tongkat estafet AI dengan membangun sebuah laboratorium khusus AI di Massachusetts Institute of Technology pada tahun 1959 dan menjadi salah satu konseptor utama di bidang AI pada periode 1960 hingga 1970-an. Minsky bahkan menjadi penasihat pribadi Stanley Kubrick pada filmnya “2001:A Space Odyssey” yang rilis pada tahun 1968, yang menjadi salah satu gubahannya yang memperkenalkan AI ke khalayak ramai melalui komputer pintar HAL 9000.

Diprediksi bahwa potensi lain dari AI ini masih membutuhkan bebebrapa dekade untuk pengembangannya. Beberapa figur teknologi terkenal seperti Elon Musk dan Stephen Hawking masih terus memperbincangkan perkembangan artificial intelligence hingga hari ini.

Dampak Positif dan Fungsi Utama Artificial Intelligence

Ketika berbicara tentang dampak positifnya terhadap umat manusia, AI adalah salah satu contoh teknologi yang dapat mengubah sejarah manusia secara keseluruhan, terutama ketika berbicara tentang otomatisasi dan pengolahan data yang masif. Manfaat utama dari AI adalah kemampuannya untuk mempelajari data yang diterima secara berkesinambungan. Semakin banyak data yang diterima dan dianalisis melalui algoritma khususnya, semakin baik pula AI dalam membuat prediksi.

Mungkin kita pernah berpikir atau membayangkan bagaimana google map dapat mencarikan kita rute dengan cepat dan effisien? Atau Google yang telah mengembangkan mobil pintar tanpa awak pengemudi: bagaimanakah caranya agar mobil tersebut dapat berjalan, dan paham akan jalan di sekitar? Itu semua merupakan inovasi dari teknologi Artificial intelligence yang semakin hari semakin di kembangkan sehingga menjadi dalam bentuk yang mendekati sempurna (menurut ukuran keinginan manusia).

Selain dampak dalam kehidupan sehari hari, AI juga berdampak besar dalam dunia bisnis. Teknologi yang dapat belajar sendiri ini berhasil meningkatkan produktivitas di kantor-kantor secara drastis. Dari mulai mengolah workflow hingga prediksi tren dan bahkan mempengaruhi keputusan brand untuk membeli ikan. AI telah benar-benar merubah cara manusia untuk melakukan bisnis.

Bentuk teknologi untuk menyokong amunisi dan perkembangan AI adalah Big Data. Big data adalah tambang emas untuk para pelaku bisnis, dimana seluruh data yang dibutuhkan untuk pengembangan bisnis tersedia, tetapi banyak perusahaan besar tidak mampu untuk mengelolanya. Big data merupakan bahan bakar dari AI, melihat teknologi ini membutuhkan informasi yang massif untuk dikumpulkan dan dianalisis untuk memberikan hasil yang berguna, dan ini tidak dapat diperoleh dari pemrosesan data secara manual.

Tidak hanya dapat meningkatkan efisiensi di dalam organisasi, AI juga dapat meminimalisir kesalahan yang kemungkinan akan terjadi. AI dapat mendeteksi sebuah pola yang tidak wajar, seperti email penipuan, deteksi barang yang kita sukai ketika kita sedang memilih milih barang saat belanja online, dan langsung mengirimkan peringatan tentang aktivitas tersebut. AI dapat “dilatih” untuk menentukan kesimpulan dengan pola unik yang mereka miliki. AI juga memiliki peran sangat besar dalam dunia kesehatan dengan kemampuanya untuk menganalisis data pasien, yang memungkinan upaya pencegahan dan pengobatan secara lebih cepat.

Banyak sekali kehebatan-kehebatan yang akan terjadi dengan teknologi artificial intelligence ini, seakan-akan manusia akan tersingkirkan dan menjadi bawahan robot nantinya. Namun kita jangan takut akan perkembagan teknologi ini, ada hal mendasar yang membedakan antara manusia dan teknologi ini, yaitu akal dan intuisi. Inilah yang menjadi tolak ukur manusia dalam memilih untuk melakukan hal yang baik atau buruk. AI sangat mengandalkan manusia dalam perkembanganya. Maka dibutuhkan keseimbangan dalam bekerja dengan AI.