Berjuang Mengejar Mimpi

Manusia merupakan makhluk paling sempurna yang diciptakan oleh Allah SWT. Manusia diciptakan dibekali dengan tiga potensi dasar yang sempurna yaitu potensi jasad, potensi qalbu dan potensi akal. Kombinasi dari ketiga unsur tersebut membentuk manusia utuh yang memiliki identitas yang disimbolkan baik itu dengan wajah, nama panggilan dan juga dengan jati diri. Simbol jati diri merupakan simbol abstrak yang tidak terlihat oleh kasat mata tetapi bisa dirasakan. Jati diri ini hanya akan terlihat jika seseorang sudah berinteraksi dengan dengan orang yang lainnya. Oleh karena itu, jika kita ingin mengetahui jati diri kita sebenarnya, maka kita diharuskan berkaca dan bertanya pada orang lain di sekitar kita.

Kita panjatkan puji dan syukur kepada Allah SWT yang Maha Mulia yang dengan karunianya manusia diciptakan dengan potensi yang sangat besar yang salah satunya yaitu potensi qalbu . Potensi qalbu di dalam diri manusia diibaratkan sebagai mesin penggerak yang mampu menggerakan jiwa dan jasadnya. Potensi qalbu ini menyelimuti segala yang ada di dalam dirinya baik itu jasmani maupun rohani. Dengan qalbu, manusia memiliki keinginan, dengan qalbu manusia bergerak dan dengan qalbu pula manusia bersemangat ataupun berputus asa.

Allah SWT memberikan hak kebebasan kepada manusia untuk menentukan masa depannya sendiri. Ilmu yang serba kurang membuat manusia kebingungan dalam memahami kehidupan ini. Ilmu kehidupan merupakan ilmu yang sangat luas. Perlu diketahui perihal yang sangat esensial dan mendasar dalam kehidupan ini bahwa fungsi Allah SWT sebagai Ar-Rab maha pengatur dan menguasai alam semesta ini. Perihal tersebut dijelaskan dalam qalam-Nya pada Surah Yunus ayat ke 3 bahwa :

“ Sesungguhnya Rab mu Dialah Allah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa kemudian Dia bersemayam di dalam ‘Arsy (singgasana) untuk mengatur segala urusan. Tidak ada yang dapat memberi syafaat kecuali setelah ada izin-Nya. Itulah Allah Tuhanmu, maka sembahlah Dia. Apakah kamu tidak mengambil pelajaran?”

Fakta pada kehidupan manusia terkait ayat tersebut, bisa dilihat pada fenomena-fenomena yang terjadi sehari-hari di sekitar kita. Kita sering melihat seseorang yang sudah berusaha keras untuk mengejar apa-apa yang dia cita-citakan tetapi dia tidak berhasil dalam menggapainya ataupun kadangkala manusia tidak melakukan usaha apaun tetapi kadangkala apa yang dia inginkan bisa datang secara tiba-tiba. Hal tersebut membuktikan bahwa dalam segala kehidupan manusia akan selalu ada peran pengaturan Allah SWT di dalamnya.
Kita sebagai manusia yang sudah dianugrahkan akal dan pikiran oleh Allah SWT, seharusnya kita bisa mengambil pelajaran untuk bisa kita aplikasikan dalam tujuan kita untuk menggapai cita-cita yang kita mimpi-mimpikan. Kita sebagai makhluk dituntut untuk menyempurnakan dan menyelesaikan semua proses dan usaha dan selalu menggantungkan harapan hanya kepada Allah SWT dengan cara berdoa dan berzikir setiap saat.

Tujuan Allah menciptakan manusia adalah untuk beribadah, maka segala anugrah dan cobaan yang diberikan kepada manusia dimaksudkan supaya manusia bisa semakin mendekatkan diri kepada Allah SWT. Segala cobaan dan rintangan tidak lain untuk mengarahkan manusia agar senantiasa beribadah, sebagai bukti rasa kasih sayang Allah SWT karena rezeki tertinggi yang diberikan kepada makhluk-Nya adalah dianugrahi Syurga dan kekal di dalamnya. Allah SWT sudah memerintahkan melalui qalam-Nya supaya manusia untuk senantiasa bekerja keras dalam dalam setiap usaha dan upaya memperbaiki kehidupan. Allah SWT tidak akan merubah sebuah keadaan sebelum manusia merubah dirinya sendiri menjadi lebih baik. Setiap usaha yang diawali dengan niat karena Allah, maka Allah akan menggantinya dengan yang lebih baik. Jika balasan tidak diberikan kontan di dunia ini, maka Allah akan membalasnya dengan yang jauh lebih baik di akhirat kelak.

Dari uraian di atas kita bisa menggaris bawahi bahwa, “tujuan Allah SWT menciptakan manusia untuk beribadah” adalah suatu kunci kehidupan ini. Di sisi lain Allah SWT memerintahkan manusia untuk selalu berupaya untuk memperbaiki kehidupannya. Di sisi lainnya pula Allah SWT adalah Ar-Rabb Maha Penguasa dan Pengatur kehidupan alam semesta ini. Jika seorang manusia mempunyai keinginan untuk mendapatkan suatu kehidupan yang lebih baik, sebagai contoh mendapatkan tempat kuliah yang baik, profesi yang baik maka Allah SWT akan membukakan jalan yang selebar-lebarnya untuk diberikan kepada makhluk-Nya. Tetapi di dalam prosesnya, Allah SWT akan memberikan cobaan dan rintangan supaya manusia senantiasa meminta dan berdoa sebagai pengakuan bahwa dirinya kecil di hadapan-Nya. Jika perasaan tersebut sudah tumbuh, maka apabila manusia tersebut diberikan kegagalan maka dia akan tawakal, dan jika diberikan keberhasilan ia akan bersyukur. Pola Pendidikan tersebut dinilai penting mengingat jiwa manusia diciptakan dengan memiliki kecendrungan kepada dua hal yang berbeda yaitu kecendrungan kearah kefasikan yang mendorong sifat sombong dan kecenderungan ke arah ketakwaan yang mendorong sifat bersyukur. Perihal tersebut tertuang didalam surah Asy-Syams ayat ke 7 – 10

“demi jiwa dan penyempurnaan (ciptaannya), maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya, sesungguhnya beruntunglah orang yang menyucikan jiwa itu, dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya”

Jika kita menjalani kehidupan tanpa memaknai kunci kehidupan tersebut, maka kita akan larut di dalam keputusasaan di dalam kehidupan. Tidak hanya di dalam kegagalan saja, tetapi di dalam kesuksesannya pun ia tidak akan mampu menikmatinya, karena satu kenikmatan tidak akan cukup menutupi keinginannya untuk menggapai seribu kenikmatan lainnya. Jika kita masih hidup dalam pemahaman materialistis seperti itu maka rasa putus asa tidak akan terhindarkan lagi, karena pandangan mata hati hanya tertuju pada keinginannya saja padahal di balik segala itu ada pengaturan Ar-Rabb Sang Maha Penguasa dan Maha Pengatur. Tetapi jika kita menanamkan Tauhidullah yang salah satunya memahami dan meyakini bahwa Allah SWT adalah Ar-Rabb yang mengatur semua hal, maka semakin banyak kita melakukan usaha maka akan semakin besar pula rasa puas di dalam hati kita, karena kita memahami walaupun kita tidak mendapatkan apa yang kita inginkan hari ini maka Allah SWT akan menggantinya di akhirat kelak, Aamiin.

Setiap pintu yang tertutup maka kita akan senantiasa memerlukan kunci untuk membukanya, jika kita mempunyai banyak hajat maka kita perlu kunci untuk membuka pintu Rahmat-Nya. Sejatinya seorang pejuang kehidupan memaknai suatu proses tidak hanya pada perkara sebab akibat suatu kegagalan atau keberhasilan saja, tetapi memaknai bahwa setiap keberjalanan kehidupan ini ada Ar-Rabb yang tidak lelah menjaga keteraturan ini. Jika kita memaknai perihal ini, maka kita akan mampu menjadi pejuang mimpi sejati yang tidak akan padam semangat sampai ajal menanti.