Mengapa Kita Harus Menulis?

Oleh Muhamad Maris Al Gifari (Dosen)

Jika melihat tokoh dunia berbicara, sering kita takjub dengan ide yang mereka sampaikan. Kadang kita secara tidak sadar terpengaruh tokoh tersebut, gaya bicara, mimik atau pakaian yang dipakai. Berbicara dan didengar orang banyak adalah suatu hal yang diimpikan orang banyak bisa jadi kita salah satunya. Orang bersedia mendengarkan kita jika kita mempunyai karya besar yang ingin diwujudkan sebab tidak ada karya besar yang murni hasil dari pribadi seorang melainkan hasil kolaborasi lebih dari satu orang. Meyakinkan orang untuk dapat bergabung dengan kita bukan pekerjaan mudah. Bagaimana cara orang lain mau mendengarkan apa yang kita sampaikan?

Jawabannya adalah menulis. Apa hubungan antara menulis dengan pendapat kita didengarkan oleh orang. Lebih jauh lagi ketika pendapat kita mulai didengarkan orang lain maka pendapat kita pada akhirnya dapat menggiring opini masyarakat.

Jawaban hubungan antara menulis dan didengarkannya kita oleh banyak orang, saya dapatkan lewat inspirasi yang lahir saat menonton acara talkshow di salah satu stasiun televisi Indonesia. Talkshow tersebut menghadirkan salah seorang dosen dari perguruan tinggi swasta dengan peringkat 40 besar di Indonesia. Talkshow tersebut membahas tentang kejadian yang terjadi di Indonesia dan dosen tersebut diwawancara tentang analisisnya mengenai kejadian tersebut. Saya berpikir sejenak saat itu, kemudian timbul pertanyaan di dalam hati, “Mengapa mereka tidak menghadirkan ahli atau dosen untuk berpendapat pada acara tersebut dari Universitas Indonesia atau UNPAD atau minimal 10 besar universitas di Indonesia? Bukankah masih banyak dosen di sana?”. Unek-unek dalam pikiran ini kemudian saya sampaikan ke istri saya yang saat itu ikut menyaksikan talkshow tersebut bersama saya. Saat itu istri saya dengan bijak mengatakan, “Itulah kekuatan menulis. Menulis dapat menjadikan dia diundang ke sana. Pemilik acara tersebut dapat mengetahui siapa dosen itu sebenarnya dari membaca tulisannya. Baik buruk pendapat dan pemikirannya dapat dilihat dari tulisan yang dibuatnya.” Pernyataan itu tiba-tiba memberikan inspirasi dan jawaban selama pertanyaan yang ada di dalam diri, mengapa orang tua, guru dan teman-teman menyarankan kepada saya untuk menulis. Sekarang saya paham mengapa harus menulis. Kata kuncinya adalah bagaimana agar pemikiran kita bisa diketahui orang lain. Jika kita sengaja untuk bertemu dan berbicara dengan orang lain tentu saja tidak mungkin. Memang siapa diri kita. Hal yang logis dan membuka peluang itu adalah dengan tulisan. Terlebih banyak hal yang ingin saya lakukan. Saya menginginkan orang lain untuk mendengarkan ide saya dan mengerjakan bersama, namun sulit melakukan itu. Ya memang sulit sebab saya menuangkannya tidak pada tempatnya. Sangat logis ketika menulis ini, kita jadikan sebagai sarana untuk mengkomunikasikan ide kita kepada orang lain. Cukup mengumpulkan ide dalam tulisan dan dibuat dengan semenarik mungkin dalam bentuk tulisan hingga orang lain mau membaca tulisan kita.

Tokoh besar yang saat ini, pendapatnya begitu didengarkan banyak orang juga memulainya dari menulis. Katakan saja Prof. Mahfud MD, kemudian Rocky Gerung, mereka memulainya dari menulis. Bahkan setelah mereka didengarkan, saat itu pula mereka dapat mengedukasi masyarakat dengan kemampuan dan studinya.

Kesimpulannya suatu karya besar dapat dimulai dari bagaimana kita menyampaikan ide itu kepada orang banyak. Tulisan adalah sebagai sebuah media untuk menyampaikan ide tersebut. Pastikan saat kita mau membuat sebuah karya besar, maka kita telah menuliskannya dalam rencana dan artikel yang fungsinya memberitahu banyak orang mengenai pemikiran kita. Mengapa Kita harus menulis? Jawabannya adalah agar kita dapat membuat sebuah tahapan awal yang kuat untuk membuat sebuah karya. Selamat Menulis! Selamat berkarya!