Pendidikan dan ‘Dapur’ Tempur Wanita

Oleh: Puspita Melati Anggraeni (Mahasiswa)

Sudah tutup buku zaman diskriminasi pendidikan wanita terlewati, kini hak pendidikan telah lepas dari status gender, laki laki dan perempuan memperoleh kesamaan hak untuk mendapatkan pendidikan yang layak. Pendidikan wajib hukumnya bagi setiap elemen masyarakat tidak terlepas dari status apapun yang melekat, karena hanya dengan pendidikan upaya membangun peradaban yang lebih baik direalisasikan. Wanita dan pendidikan memang sempat mengalami masa pergolakan yang tak nyaman di Indonesia namun sekarang wanita berhak mengenyam pendidikan dengan bebas tanpa penghadangan atau pengekangan. Kebebasan dalam mengenyam pendidikan bagi wanita ini rupanya masih belum sejalan dengan pembebasan pola pikir mengenai pendidikan bagi wanita itu sendiri. Di zaman se-modern sekarang, masih eksis pemikiran kolot yang secara tidak langsung mengekang pendidikan bagi wanita yang menyatakan, “setinggi apapun pendidikan seorang wanita akhirnya ke dapur juga”. Pemikiran masa lalu ini adalah buah dari budaya yang memang telah lama ada ditambah man oriented yang masih melekat pada pemikiran masyarakat, dengan pria yang secara gender masih mendapat status tertinggi di masyarakat dibandingkan wanita. Orientasi ini memunculkan pandangan bahwa pendidikan tidak berguna bagi wanita bahkan jika telah berpendidikan tinggi dan memutuskan untuk tidak bekerja di dunia perkantoran misalnya dan memilih untuk tinggal dan mengurus rumah. Pemikiran seperti ini menjadi indikator masih pincangnya pendidikan antara wanita dan pria, pemikiran yang mengekang kebebasan pendidikan bagi wanita.

Pria dan wanita memang jauh berbeda dari segi fisik, kapasitas dan psikologi. Perbedaan ini menjadikan pembagian peran yang berbeda sehingga kehadiran keduanya saling melengkapi. Dalam pembagian kerja berdasarkan gender ini, pria diidentikan dengan tugas yang menuntut untuk bekerja keras, mencari nafkah misalnya sedangkan wanita biasanya identik dengan tugas di rumah, misalnya di dapur. Wanita dengan dapur telah dikaitkan sejak lampau. Betapa wanita itu harus tahu medan tempur yang ada di dapur, amunisi rempah-rempah, senjata-senjata memasak dan bagaimana bertempur dengan masakan, merupakan hal-hal yang harus dipahami karena gelar wanita tak dapat disandang bagi mereka yang tak mengeti. Keterkaitan yang telah erat ini menjadikan dapur sebagai bagian dari identitas wanita. Wanita harus tahu dapur dan akan kembali ke dapur, kira kira begitu. Hal itu bisa dilihat di lingkungan sekitar kita yang bila bertemu dengan para wanita yang sudah matang dalam sebuah pertemuan akan pamer keahlian memasak. Keterkaitan ini hadir seiring dengan kesesuaian antara atmosfer dapur dengan fisik, psikologis dan mental wanita. Dapur menggambarkan ketelatenan, ketelitian, perasaan, kesabaran yang semua itu lebih dimiliki seorang wanita diabndingkan pria. Bagaimana saat mengumpulkan bahan masakan, mengupas bawang, membersihkan sayuran, memotongnya, mengolah jadi masakan perlu bumbu bumbu yang tentu penuh perhitungan, kesabaran dan cinta agar masakan terasa pas lezat terasa. Keahlian wanita di dapur tentu tak ada salahnya, namun sayangnya identifikasi ini menjadikan penyempitan makna seorang wanita dan apa yang menjadi keputusannya, salah satunya adalah pendidikan. Seolah ‘dapur’ tempur wanita hanya soal rempah-rempah dan masakan. Walaupun memang akan ada saat wanita berinteraksi dengan dapur, namun ‘dapur’ wanita lebih dari itu.

Wanita merupakan sekumpulan kompleksitas keputusan. Wanita yang telah matang dan memutuskan untuk berkeluarga tentu menghadapi berbagai pergumulan pendapat sebelum akhirnya memutuskan. Wanita yang berpendidikan yang akhirmya memutuskan untuk mengurus rumah akan menjadi korban pemikiran : “untuk apa pendidikan tinggi tinggi akhirnya ke dapur juga”, seolah tabungan pendidikannya yang tinggi disayangkan mengingat hal itu bisa menjadi modal independensi bagi kahidupannya di masyarakat terutama dalam karir, sosial dan ekonomi dan merupakan sebuah peluang menjadi kontributor keuangan di rumah. Namun, independensi wanita bukan hanya perkara karir melainkan mencangkup kemandirian dalam bertanggung jawab atas pilihan yang diambil untuk berdampak pada lingkungan pada keluarga misalnya. Keterlibatan wanita yang berpendidikan di rumah akan memunculkan beragam efek positif bagi lingkungan rumah. Segala ilmu yang diperoleh tentu akan menjadi modal karena dapur tempur wanita itu bukan hanya perkara rempah-rempah dan masakan melainkan wanita menghadapi kompleksitas berbagai macam profesi yang dijalani selama 24 jam tanpa jeda atau cuti. Tabungan pendidikan wanita ini tak akan berakhir seperti sambal yang segera habis dalam pandangan bila dihidangkan. Saat memutuskan untuk berkeluarga, keluarga inilah yang menjadi medan pengaplikasian pendidikannya yang akan memberikan dampak yang berkelanjutan bagi kehidupan dalam keluarga terutama pada anak. Dalam tulisan di situs berita online Wastern News menuliskan, “sebuah riset sari dua ilmuan barat menantang sebuah mitos bahwa kesuksesan anak dalam hidup bergantung pada struktur keluarga. Malahan menurut profesor sosiologi barat, William avison dan profesor Jamie Seabrook dari universitas Brescia kesuksesan anak merujuk pada pendidikan ibu sebagai indikator kuncinya” [CITATION Ade15 \l 1057]. Hal ini menunjukan bahwa pendidikan disiapkan bagi wanita bukan untuk dirinya dan karir, tapi untuk regenerasi bibit unggul bagi bangsa itu sendiri, ‘dapur’ tempur wanita sesungguhnya adalah pendidikan anaknya sendiri sehingga jelas “untuk apa pendidikan tinggi tinggi akhirnya ke dapur juga”, merupakan kesalahan besar. Peran seorang wanita begitu di butuhkan bagi seorang anak sebagai sekolah pertamanya, sebagai pendidik pertamanya. Wanita boleh saja mengalami pergeseran peran seiring perubahan dunia, namun peranya sebagai sekolah pertama anak tidak bisa bergeser ke tangan siapapun. Keterlibatan wanita dalam menjalankan peran sebagai ibu dalam pendidikan anak berupa keterlibatan individu secara penuh dalam tumbuh kembang sang anak yang merupakan pendampingan secara fisik, intelektual, mental dan spritual. Keluarga yang menjadi lingkungan sosial pertama bagi anak dengan orangtua terutama ibu yang andil dalam tumbuh kembang anak, sangatlah penting untuk terlibat dalam pendampingan pembangun jati diri anak itu sedari kecil dengan pemberian pendidikan dasar bagi anak yaitu pendidikan karakter. Ibu hadir dalam pendamping sebagai filter bagi anak, menanamkannya pada nilai dan norma yang baik. Kehadiran penuh seorang ibu bagi anak menunjukan efek jangka panjang bagi tumbuh kembang anaknya yang mengarah pada sisi yang positif. Sifat wanita yang sabar dan penuh kasih sayang ditambah pendidikan yang mempuni tentu merupakan modal dalam keberhasilan mendidik anak dengan menghadirkan figure dan role model yang baik. Kepandaian wanita dalam mendidik anak, menjadikan proses penerapan nilai dan norma akan diterima anak dengan cara terbuka bukan dengan keterpaksaan. Ibu yang selalu hadir, mendampingi, ada ketika dibutuhkan jelas akan menghadirkan rasa percaya dari seorang anak. Anak dengan pendamping ibu yang terdidik, cerdas dan stabil menunjukan efek yang baik terhadap tumbuh kembang anak, bahkan bagi single parent namun dengan kondisi yang kondusif yang mana dalam menjalankan tugas seorang diri sebagai orang tua namun dengan kondisi keluarga yang tetap aman, nyaman dan stabil bagi tumbuh kembang anak menunjukan adanya kesuksesan bagi sang anak dimasa mendatang. Ini menunjukan peran besar wanita bagi anak-anaknya.

Pendidikan bagi wanita bukan hanya sebagai bekal berkarir, melainkan bekal bagi peran yang hendak ia emban nantinya. Pendidikan akan membawa skenario tersendiri bagi pria maupun wanita. Wanita berhak memutuskan akan menjadi apa dengan pendidikannya sekalipun ia ingin bertempur dengan dapur di rumahnya. Pandangan “untuk apa pendidikan tinggi tinggi akhirnya ke dapur juga” penggambaran pengekangan atas pilihan bagi wanita, penyempitan orientasi pendidikan bagi wanita yang terkadang menjadikan alasan bagi para orang tua tidak melanjutkan sekolah bagi anaknya. Paradigma berbahaya ini menyempitkan peran wanita, independensi wanita dalam memilih keputusannya dan mencoreng arti pendidikan itu sendiri. Wanita yang terdidik tidak perlu berkarir, ia cukup dengan mengambil peran. Di zaman sekarang, dengan pergeseran tata kelola berbagai sektor kehidupan memberi peluang bagi wanita untuk berperan dengan caranya. Penyempitan lahan tempur wanita dengan dapur dan keberhasilan wanita yang diukur dengan karir menyempitkan peran wanita itu sendiri. Wanita berhak dengan pilihanya untuk bertempur dimana dengan peran apa. Independensi wanita tidak ditunjukan dengan keterlibatanya dalam pergolakan dunia dengan karir yang dia geluti. Keberhasilan wanita yang terdidik dengan karir harus digeser dengan peran. Wanita yang sukses dan independen adalah wanita yang berani mengambil peran apapun dengan berani tanpa melupakan kewajiban yang harus diembannya. Peran sebagai istri, ibu, wirausaha, penggiat pkk, dosen, peneliti, mengurus arisan RT atau apapun itu yang tentunya baik merupakan wujud keberhasilan seorang wanita dalam mengambil peran. Peran disini tak sesempit karir yang terukur oleh uang dan jabatan, peran bisa diambil dalam lingkungan manapun keluarga atau masyarakat bahkan bangsa dengan indikator seberapa besar impact yang terasa di lingkungan akibat keberadaanya. Jangan sepelekan peran wanita di rumah, peran wanita dalam mendidik anak terutama, ia adalah pembenah sebuah bangsa dengan tangan halus dan pemikiran cerdas yang sedia membelai dan mendampingi para penerus bangsa belajar, anaknya yang mana peran ini tak boleh digeser oleh siapapun. Dalam pelukannya, dalam asuhannya dan dalam didikannya sebuah bangsa tengah dibangun. Peran wanita tidak sesempit dengan dapur yang selalu di identikan dengannya, ‘dapur’ tempurnya adalah satu bangsa yang tanahnya ia jejaki. Karena dalam asuhnaya lah, para penerus bangsa tengah di tempa. Wanita berperan dengan caranya, wanita bertempur dalam ‘dapur’ nya yang tak berdampak dalam jangka waktu singkat, ia membangun peradaban dengan kecerdasan dan kasih sayangnya, itu lah wanita.

Sumber bacaan :
Talbot, A. (2015, mei 2015). Study : Mother’s education, family stability at heart of child’s success. Dipetik Februari 7, 2018, dari Wastern News: news.wasternu.ca/2015/05/study-mothers-education-family-stability-at-heart-of-child-success/