Sepakbola Modern, Ketika Seni dalam Olahraga Bergeser Menjadi Sebuah Industri

Oleh: Anugrah Rahmatulloh (Mahasiswa)

”Ketika berbicara mengenai sepak bola, ada sesuatu yang paling mudah untuk diingat. Tujuan permainan sepak bola adalah memenangkan setiap pertandingan, itu berarti mencetak gol sebanyak mungkin, menyarangkan sebanyak mungkin bola ke gawang lawan (Lesmana. 2012: 1). Kemudian sepak bola berkembang menjadi suatu seni olahraga yang menarik untuk disaksikan dengan beragamnya filosofi yang diusung oleh sepak bola. Tetapi bagaimana jika sepak bola bergeser menjadi lahan bisnis yang menjanjikan? Masih ada kah seni itu?”

Berbicara mengenai sepak bola, sudah barang tentu yang akan paling diingat adalah olahraga yang digemari oleh semua kalangan. Olahraga yang terdiri dari dua kesebelasan ini bertransformasi menjadi olahraga yang dikenal di seluruh dunia. Kita harus berterima kasih kepada The Football Association (FA), organisasi yang memiliki otoritas tertinggi dalam sepak bola Inggris. Bersama dengan 11 tim profesional pada 26 Oktober 1863, FA dapat mengorganisasi sepak bola, sehingga kita sampai saat ini bisa menikmati tayangan kompetisi-kompetisi yang diselenggarakan setiap tahunnya. Dengan sepak bola, kita dapat mengetahui kedigdayaan Pele bersama Brazil, keperkasaan Maradona membela Argentina, atau teknik Zidane saat membela Perancis. Dari sepak bola juga, kita bisa mengetahui persaingan dua mega bintang sepak bola saat ini, yaitu Lionel Messi (F.C Barcelona/Argentina) dan Cristiano Ronaldo (Real Madrid C.F./Portugal).

Sama seperti olahraga lainnya, sepak bola mengalami perkembangan dari waktu ke waktu. Ketika pada awal kemunculannya di abad ke-2 sampai abad ke-3, sepak bola digunakan sebagai sarana hiburan bagi para tentara Cina pada masa Dinasti Tsin dan Han. Ketika sepak bola sudah mulai terorganisasi dengan berdirinya FA, sepak bola berkembang menjadi olahraga yang memiliki kompetisi dengan tujuan utama memperoleh prestasi. Bahkan Piala FA (atau yang lebih dikenal sebagai FA Cup) merupakan salah satu kompetisi tertua di dunia sampai saat ini. Dimana gelaran pertama kopetisi ini berlangsung mulai pada tahun 1871-1872. Pada periode berikutnya, sepak bola kemudian semakin menyebar di seluruh dunia, sehingga perlu dibentuknya suatu organisasi yang mengatur perkembangan dan aturan sepak bola dunia, yang kemudian ditindak lanjuti dengan berdirinya Federation Internationale de Football Association (FIFA)  yang berdiri pada 1904. Pada perkembangan selanjutnya, kompetisi sepak bola semakin banyak dan semakin kompetitif, sebut saja liga-liga domestik di Eropa, atau kometisi antar benua seperti UEFA Champions League dan Asian Champions League (untuk tingkat klub), European Championship Cup dan Copa America (untuk tingkat negara). Bahkan sampai kompetisi tertinggi antar negara di dunia, yaitu FIFA World Cup atau Piala Dunia, yang dimulai sejak 1930.

Selain berkembangnya kompetisi sepak bola, banyak hal lain yang berkembang dari sepak bola. Periode 70-an hingga awal 2000-an mungkin bisa disebut sebagai periode emas dari sepak bola yang kompetitif, ketika sepak bola bertransformasi bukan hanya soal menang kalah atau mencetak gol, tetapi menjadi suatu seni yang indah. Bicara sepak bola bukan hanya sekedar memenangkan kompetisi, tapi juga bagaimana menampilkan permainan yang indah dan menjadi sajian yang menarik untuk disaksikan. Bahkan selanjutnya, beberapa negara memiliki ciri khas permainan tersendiri. Belanda misalnya, negara ini terkenal dengan gaya permainan Totaal Voetbal. Gaya main yang dipopulerkan oleh Ajax Amsterdam ini kemudian menjadi identitas permainan tim-tim di Belanda serta menular ke timnas sendiri. Gaya main ini menekankan pada rotasi yang dilakukan secara terus menerus dan melibatkan hampir semua pemain (kecuali kiper), gaya main Totaal Voetbal membutuhkan sebuah kolektifitas karena seluruh pemain aktif melakukan rotasi. Jadi sudah dipastikan bahwa siapapun yang bermain harus siap menjadi seorang bek, gelandang, bahkan striker sekalipun. Filosofi Totaal Voetbal ini kemudian membawa Belanda sampai ke Final Piala Dunia 1974 di Jerman Barat (meskipun dikalahkan tuan rumah dan harus puas menjadi Runner-up), sampai akhirnya dibawa oleh Johan Cruyf dan dikembangkan bersama FC Barcelona di Spanyol, ketika ia memanajeri tim tersebut pada 1988 sampai 1996. Filosofi ini kemudian yang menjadi dasar permainan “Tiki Taka” ala Barcelona dan timnas Spanyol saat ini.

Lain Belanda, lain lagi dengan Italia. Negara yang sering menghasilkan pemain-pemain berbakat seperti Gianluigi Buffon, Paolo Maldini, Andrea Pirlo, hingga Philipo Inzaghi ini juga memiliki gaya bermain yang khas. Gaya bermain yang dinamai Cattenacio ini lebih ditekankan pada kekuatan pertahanan dan mengandalkan serangan balik. Gaya bermain ini kemudian mewabah di tim-tim peserta liga sepakbola Italia (baik Serie A, Serie B, maupun liga-liga di bawahnya). Meskipun sering dianggap membosankan karena kerap terjadi Low Scoring (di liga Italia jarang sekali terjadi pertandingan dengan skor-skor besar). Tetapi gaya bermain ini memberikan suatu sentuhan tersendiri, bahkan dengan gaya bermain ini, Serie A Italia pada tahun 90-an menjadi salah satu liga paling kompetitif. Gaya bermain ini yang kemudian membawa Italia menjuarai Piala Dunia pada tahun 2006 di Jerman.

Inggris juga tidak mau kalah memiliki gaya bermain tersendiri. Sebagai liga yang kompetitif, sepak bola Inggris pun memiliki filosofi sepak bola Kick and Rush. Berbeda dengan dua konsep gaya bermain diatas, gaya bermain Kick and Rush lebih cenderung sangat cepat dan membutuhkan kondisi fisik yang prima, karena tempo permainan yang cepat dan pemain harus siap untuk selalu berlari selama pertandinga. Liverpool menjadi salah satu penganut kuat filosofi ini pada 1980-an. Dengan gaya bermain ini, Liverpool menjadi klub yang sukses dan disegani di tingkat Eropa dan juga domestik. Gaya bermain ini kemudian menjadi identitas tim-tim liga Inggris. Hal tersebut dibuktikan Aston Villa yang kemudian sempat menjuarai Liga Champions 1982. Dengan gaya bermain Kick and Rush, Aston Villa berhasil mengandaskan Bayern Munich di Final dengan skor 1-0.

Brazil, merupakan salah satu negara sepak bola tersukses dan selalu menghasilkan pemain bertalenta. Negara yang sudah lima kali menjuarai Piala Dunia ini memiliki filosofi yang tidak kalah dengan negara-negara Eropa. Gaya bermain o Jogo Bonito (The Beautiful Game) kemudian membuat Brazil menjadi tim sepak bola yang disegani di dunia dan juga Amerika Selatan. Dengan filosofinya tersebut, Brazil sudah banyak memenangkan trofi bergengsi. Baik Copa America maupun Piala Dunia. Gaya bermain yang dikenalkan oleh Pele pada periode 1950-an ini lebih menekankan pada kemampuan individu dalam mengolah si kulit bundar. Dengan menampilkan liukan-liukan indah nan mematikan, seringkali membuat lawan tidak berkutik dan sulit untuk menghentikan pergerakan para pemain timnas Brazil.

Filosofi sepakbola yang dimiliki tim-tim tersebut menjadi suatu seni tersendiri dalam olahraga. Meskipun penulis lahir di 1997 (masa menuju akhir fase filosofi itu berkembang). Tetapi cukup beruntung masih bisa melihat bagaimana filosofi tersebut menjadi nilai plus tersendiri bagi olahraga sepak bola. Ketika tim-tim dari liga atau timnas negara tersebut sedang bermain, penonton akan dimanjakan dengan gaya sepak bola yang enak untuk ditonton dan menjadi pertandingan yang berbobot. Bagaimana permainan kolektif Totaal Voetbal, kokohnya pertahanan dalam Catenacio, permainan cepat dan taktis ala Kick and Rush serta skill individu olah bola milik o Jogo Bonito membuat olahraga ini semakin diminati dan dicintai oleh seluruh penggemarnya. Bahkan mulai muncul modifikasi-modifikasi yang dilakukan oleh tim-tim lain yang terinspirasi oleh filosofi permainan tersebut. Setidaknya itulah yang bisa dinikmati sampai gelaran Piala Dunia 2006.

Selepas Piala Dunia 2006 (atau lebih tepatnya setelah Piala Eropa 2008), seni dan filosofi itu perlahan-lahan mulai pudar. Hal ini disebabkan oleh satu hal, yaitu masuknya industri dalam dunia sepak bola. Masuknya industri sepak bola dimulai ketika tim asal Spanyol, Real Madrid memasuki era Los Galacticos jilid 2 (kami sengaja tidak memasukan Los Galacticos jilid 1 atau belanja besar-besaran Chelsea pada 2003 karena dirasa biaya transfer masih masuk akal). Ketika itu nama-nama besar mulai didatangkan, puncaknya ialah transfer Cristiano Ronaldo dari klub Inggris, Manchester United yang memecahkan rekor transfer pada saat itu. Hal inilah yang kemudian membuat tim-tim berlomba-lomba memperkuat finansial mereka untuk mendatangkan pemain berkualitas. Corak industri semakin terlihat ketika rival Manchester United, yaitu Manchester City, dibeli oleh investor asal Uni Emirat Arab pada 2011 yang kemudian sangat memungkinkan City untuk menebus pemain incarannya dengan harga berapapun. Kurang dari setahun, City bisa menjadi tim sukses dan mulai diperhitungkan di sepak bola Inggris. Hal ini juga terjadi pada Paris Saint Germain (PSG) yang juga dibeli investor asal Uni Emirat Arab, hingga PSG dapat mematahkan dominasi Olympique Lyon di kompetisi Ligue 1 sampai saat ini. Perlu diingat PSG pun menjadi tim pemecah rekor transfer setelah mendatangkan Neymar dari Barcelona seharga 3 Trilyun (ini yang kemudian membuat harga transfer pemain menjadi “sangat” tidak masuk akal). Belum lagi geliat China Super League dan Major League Soccer Amerika yang menjanjikan bayaran besar bagi para pemain yang berminat untuk bermain disana serta sokongan sponspor yang besar membuat sepak bola kini menjadi industri yang sangat menjanjikan.

Tak ayal, kondisi tersebut menjadikan corak sepak bola menjadi bergeser. Dewasa ini, tujuan tim mengikuti kompetisi sepak bola (nampaknya) hanya condong terhadap dua hal: hasil akhir dan keuntungan. Hal ini terjadi karena pengaruh industri yang membuat sepak bola harus menjadi ladang penghasil pendapatan, baik dari hadiah, penjualan tiket, atau bahkan penjualan merchandise berupa jersey pemain tertentu yang “menjual” (ini juga yang mulai melanda tim-tim di Indonesia dengan mendatangkan pemain dengan nilai jual yang tinggi). Kondisi ini juga kemudian membuat gaya bermain tim-tim di dunia menjadi bergeser. Dahulu, selain hasil akhir yang diutamakan, filosofi bermain juga menjadi hal yang wajib dimunculkan setiap tim, karena selain strategi untuk memenangkan pertandingan, filosofi tersebut juga menyajikan pertandingan sepak bola yang dapat memanjakan penonton yang menyaksikannya. Saat ini, kecenderungan bermain tim-tim sepak bola hanya merujuk pada permainan yang memaksimalkan satu penyerang dengan tekanan yang cenderung agresif dengan memanfaatkan sayap dalam mem-build up serangan, atau kecenderungan bermain pragmatis dengan menumpuk seluruh pemain di belakang untuk bermain aman, yang selanjutnya dikenal dengan “Parkir Bus” (gaya sepak bola negatif yang diterapkan Jose Mourinho pada masa modern).

Sepak bola modern memang masih menjadi favorit karena masih menyajikan persaingan yang seru serta keuntungan dari segi finansial yang kemudian menjadi sasaran pada masa ini. Meredupnya filosofi sepak bola membuat penonton “kehilangan” satu hal menarik dari sepak bola yang membuat kita betah berlama-lama menyaksikan sepak bola.

Sumber:

  1. Artikel dalam Goal.com dengan judul Apa kabar Catenacio, Total Voetbal, Joga Bonito dan Kick and Rush? (www.goal.com/id/news/1571/fokus-spesial/2010/07/06/2011926/fokus-apa-kabar-catenacio-total-voetbal-joga-bonito-kick-and)
  2. Artikel dalam Republika Online dengan judul Kick and Rush, Riwayatmu Kini (www.republika.co.id/berita/sepakbola/freekick/15/02/13/njp7ci-kick-and-rush-riwayatmu-kini)