Belajar Mengantre? Yuk, Mulai dari Sekarang!

Oleh: Awaly Ilham Dewantoro (Mahasiswa)

Antre atau mengantre merupakan kata yang biasa kita dengar sehari-hari. Kata ini memiliki arti yang sederhana, tapi sulit untuk diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari. Mari kita lihat pengertiannya dalam kbbi.web.id yang menyatakan antre adalah suatu kegiatan berdiri berderet memanjang dan menunggu untuk mendapatkan gilirannya. Memang sederhana pengertiannya, namun hingga saat ini masih banyak yang belum bisa mengantre dengan baik.

Dalam kehidupan sehari-hari di Indonesia, budaya mengantre masih sulit dilakukan. Contohnya adalah saat kita sedang berada di jalan raya, tepatnya saat mengendari kendaraan bermotor, banyak sekali yang menerobos lajur sebelahnya yang kosong ketika lajur yang seharusnya dilalui sedang macet. Padahal jika kita tetap menunggu maka kemacetan akan segera terurai. Beda halnya jika kita terus memaksa jalan melewati lajur sebelah yang kosong, karena bisa jadi menyebabkan kemacetan semakin parah. Kejadian ini pun terus berulang jika tidak ada pihak yang berwajib mengatur lalu lintas.

Berdasarkan contoh masalah sebelumnya, mungkin terbesit pertanyaan di benak kita: Mengapa masih banyak orang yang belum bisa mengantre? Jangankan di jalan, ketidak mampuan untuk mengantre pun masih banyak ditemui di berbagai tempat. Terutama di tempat umum yang memberikan pelayanan kepada khalayak. Sebenarnya, ini bisa saja menjadi suatu masalah apabila tidak segera ditangani.

Bila dilihat lagi, mengantre ini memiliki banyak manfaat yang dapat mengubah pola pikir, karakter, dan perilaku setiap individu. Kalau kita iseng mencari berita ataupun artikel di internet mengenai “manfaat mengantre” pasti isi artikelnya merujuk ke orang-orang yang tinggal di negara maju. Kita ambil contoh negara yang menjunjung etika, yaitu Jepang. Di Jepang, sejak usia dini sudah diajarkan cara mengantre dengan baik dan hingga dewasa pun mereka masih menerapkan budaya mengantre. Terdapat suatu artikel yang memperlihatkan bahwa masyarakat Jepang setelah ditimpa bencana pada tahun 2011, mereka tetap mengantri untuk mendapatkan persediaan makanan dan minuman hingga membuat suatu antrean yang panjang. Coba bayangkan bila hal ini terjadi di Indonesia, mungkin saling rebut dan saling sikut akan terjadi.

Di salah satu negara Eropa, saat jalan tol macet terdapat suatu hal yang unik. Mereka mengosongkan lajur tengah dan lebih memilih merapatkan mobilnya ke sisi jalan. Kira-kira apa yang dipikirkan oleh mereka? Ya, lajur di tengah sengaja dikosongkan untuk akses kendaraan yang sangat darurat seperti ambulans dan damkar agar mereka tepat waktu sampai tujuan. Bagaimana bila terjadi di Indonesia? Jelas sekali jalan-jalan penuh dan kendaraan seperti ambulans maupun damkar kesulitan untuk akses jalan. Ini hanyalah bentuk kesadaran akan budaya mengantre yang akan sangat berarti bagi orang-orang dalam keadaan darurat.

Selain contoh-contoh tersebut, tentunya kita pernah membaca atau mendengar sebuah cerita mengenai guru dan juga orang tua di Australia yang memiliki ketakutan jika anaknya tidak mampu mengantre dengan baik. Mereka lebih khawatir bila anak-anaknya tidak bisa mengantre daripada tidak bisa matematika. Jelas berbanding terbalik dengan kondisi di Indonesia yang menuntut anak-anaknya bisa matematika. Mungkin dari kasus ini akan muncul pertanyaan : Mengapa orang tua dan guru di Australia bisa sekhawatir itu? irangkum dari berbagai sumber yang ada, sebenarnya ada beberapa manfaat dari penerapan kegiatan mengantre yang seharunya menjadi suatu budaya, yaitu sebagai berikut.

Melatih Mengendalikan Emosi

Saat sedang mengantre, tentunya kita akan bersabar menunggu datangnya giliran. Kita tidak bisa menggerutu atau pun marah-marah jika pelayanan antreannya baik, sehingga saat mengantre, kita dapat melatih mengendalikan emosi dengan baik dan memberikan efek positif pada lingkungan.

Belajar Menghormati Orang Lain

Mengantre dapat digunakan sebagai sarana belajar menghormati orang lain? Jawabannya adalah iya, karena saat mengantre kita tidak akan meyerobot dan juga tidak ingin diserobot. Sehingga kita tidak akan semena-mena mengambil hak orang lain saat mengantre dan merupakan suatu bentuk saling menghormati.

Belajar Manajemen Waktu

Suatu hal yang membosankan saat mengantre, apalagi saat kita telat datang ke suatu antrean. Untuk mengatasi mengantre, sebenarnya kita dapat berancang-ancang untuk datang lebih awal agar lebih cepat dilayani dan tentunya agar tidak menyebabkan efek domino akibat dari suatu keterlambatan. Selain itu, waktu menunggu antrean pun dapat dikatakan waktu yang tidak produktif. Akan tetapi, bagi orang-orang yang menghargai waktu tentu menjadikan waktu mengantre ini sebagai ajang mencari inspirasi maupun mengerjakan hal produktif lain seperti membaca buku.

Menumbuhkan Jiwa yang Disiplin dan Tertib

Sudah barang tentu dalam suatu antrean akan ada orang-orang yang berbaris rapih. Andaikan ada salah satu yang menyerobot, maka kekacauan akan terjadi, sehingga jiwa disiplin dan tertib dari seseorang akan muncul dalam kegiatan mengantre.

Memahami akan Konsekuensi

Pemahaman akan konsekuensi ini muncul bersama dengan kesadaran akan manajemen waktu yang dimilikinya. Bila kita terlambat datang dan mendapatkan antrean paling belakang tentu konsekuensinya adalah menunggu lebih lama lagi, beda halnya jika datang lebih awal. Selain itu, kejujuran pun akan diuji saat menghadapi suatu antrean. Mungkin bisa dicoba sendiri.

Sarana Bersosialisasi dan Melatih Komunikasi

Menunggu dalam antrean memang tidak enak, tapi berbeda dengan orang yang menghargai waktunya. Selain dapat mencari inspirasi, dalam suatu antrean kita dapat bersosialisasi dan berkomunikasi dengan sesame pengantre, sehingga mengantre dapat menjadi sarana bersosialisasi dan melatih komunikasi setiap orang.

Belajar Rasa Malu dan Keberanian

Mungkin ini agak aneh, tapi memang ada benarnya. Saat mengantre jika kita menyerobot antrean, maka kita akan disalahkan dan akan timbul perasaan malu. Setelahnya, keberanian dapat tumbuh untuk menyatakan bahwa menyerebot antrean itu salah.
Dari penjelasan di atas, memang manfaat mengantre dapat dianggap biasa-biasa saja. Namun, jika diajarkan dan diimplementasikan sejak usia dini, hal ini akan memberikan manfaat bagi perkembangan karakter seorang anak. Apalagi jika budaya mengantre ini menjadi bagian dari kurikulum pendidikan di Indonesia , terutama setelah tercetusnya slogan pendidikan karakter, tentunya akan sangat mendukung slogan tersebut. Selain itu, keteraturan dan ketertiban akan terjamin di masa yang akan datang. Sebagai penutup dalam membahas antre-mengantre ini ada suatu hal yang patut kita kritisi juga, yaitu: “Apa gak malu sama bebek yang bisa ngantre dengan baik dan benar? Padahal mereka cuman bebek.”.

Referensi:

  1. https://japanesestation.com/mengapa-orang-jepang-senang-mengantri/
  2. https://kbbi.web.id/antre-atau-antri.html
  3. www.hutech.edu.vn/english/news/492-q-queue-in-hutech-
  4. www.kompasiana.com/amirsyahoke/pentingnya-mengajari-anak-mengantri_5529c0796ea834cc06552d0b