Menekan Malas dengan Kaizen

Oleh: M. Arif Budiman Kantawijaya (Senior Art Director)

Malas, sebuah kata yang sehari-hari sering kita dengar atau bahkan sering kita lakukan. Istilah yang saat ini sedang booming adalah kata mager, kependekan dari malas gerak. Mungkin kita menganggap hal ini adalah hal yang sepele. Ketika dianggap sepele, malas kemungkinan bisa menjadi sebuah kebiasaan.

Malas ini juga adalah salah satu sifat syaitan. Nabi pun berlindung kepada Allah dari sifat malas. Dari Zaid bin Arqam radhiyallahu ‘anhu bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari rasa lemah dan malas, dari rasa takut, tua, dan bakhil. Dan aku berlindung kepada-Mu dari siksa kubur dan fitnah hidup dan kematian.” – HR bukhari 2668

Malas juga adalah salah satu sifat dari orang munafik. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

Apabila seorang hamba bangun malam, kemudian berdzikir kepada Allah, terlepaslah satu ikatan. Apabila dia berwudhu, terlepaslah satu ikatan lagi. Jika dia shalat, maka akan terlepas seluruh ikatan. Maka pagi harinya jiwanya akan semangat dan bagus. Jika tidak bangun (malam), jadilah jiwanya jelek dan malas.” – HR Bukhari 1442

Memang manusiawi ketika kita memiliki kecenderungan untuk malas. Tapi jika kita selalu menuruti hawa nafsu, malas bisa membawa kemudaratan bagi kita.

Disini kita perlu muhasabah diri jika kita ingin menuruti rasa malas. Sesungguhnya malas membuat kita mundur dan tidak bersyukur atas amanah waktu yang diberikan. Untuk melawan kemalasan memang sulit dan perlu dipaksakan.

Jepang adalah salah satu negara yang secara umum dikatalan memiliki tingkat kemalasan yang rendah. Kenyataannya demikian, orang jepang terkenal rajin dan ulet dalam hidupnya. Kaizen, sebuah kata dalam bahasa jepang yang berarti improvement. Dalam bisnis, kaizen berarti continuous improvement yang memcakup segala aspek, dari owner hingga pegawai paling rendah sekalipun. Kaizen ini dipegang teguh sehingga orang mau bersungguh-sungguh dan fokus dalam pekerjaannya. Kaizen ini mereka terapkan pasca perang dunia yang menjadikan jepang menjadi salah satu negara maju di Asia timur.

Pada prakteknya, kaizen diawali dengan langkah kecil. Misalkan dalam 24 jam kita menyisihkan waktu untuk belajar hal baru selama 10 menit saja. Namun harus konsisten dilakukan, continuously kata kuncinya. Lama kelamaan hal ini akan menjadi sebuah kebiasaan dan bisa berkembang, misal yang awalnya 10 menit menjadi 30 menit. Dalam peribahasa sering kita dengar “sedikit demi sedikit, lama kelamaan jadi bukit”.

Sebagai muslim yang ingin maju dalam keimanan dan kehidupan, kita harus sadar akan tujuan hidup kita, lalu kaizen, mulailah dengan sedikit namun berkelanjutan. Untuk mendukung continuous improvement ada beberapa hal yang menjadi booster, antara lain: mengingat tentang nikmat waktu, bergaul dengan teman yang baik dan beritikad untuk rajin, membaca kisah semangat para salaf, dan yang terakhir adalah senantiasa meminta perlindungan dan doa pada Allah SWT.