Mengenal Jurusan Ekonomi Islam (Syariah)

Oleh : Nurul Fatimah, S.Pd., M.Si. (Dosen dan Pegiat Komunitas Bahasa)

Semakin tingginya perhatian masyarakat global terhadap eksistensi dari ekonomi islam mendorong dibukanya cabang ilmu khusus ekonomi/akuntansi/keuangan islam di berbagai perguruan tinggi. Di Indonesia, sedikitnya terdapat 10 Perguruan Tinggi Negeri (PTN) favorit yang telah secara resmi membuka program studi ekonomi islam sebagai berikut.

Sumber : Situs masing-masing PTN, 2018 (diolah)

Lahirnya jurusan ekonomi islam di Indonesia sebetulnya banyak diinspirasi oleh pesatnya pendidikan ekonomi Islam di luar negeri. Hal yang mengejutkan adalah, bahwa ilmu ekonomi islam berkembang pesat tidak hanya di negara yang mayoritas masyarakatnya muslim seperti Malaysia dan negara-negara di Timur Tengah, tetapi juga di negara mayoritas non-muslim seperti Inggris. Bahkan kini Inggris menjadi salah satu destinasi utama pelajar internasional yang hendak belajar tentang ekonomi islam. Ini membuktikan bahwa islam merupakan agama rahmatan lil ‘alamin, karena sistem ekonomi islam sebagai bagian dari sistem kehidupannya dapat dipelajari dan diaplikasikan oleh seluruh umat manusia, muslim maupun non-muslim.

Di Inggris, terdapat banyak perguruan tinggi yang menawarkan program studi ekonomi dan keuangan islam baik di level Undergraduate (S1), Master (S2) maupun PhD (S3). Salah satu yang paling ternama dan fokus dalam bidang ini adalah Durham University. Selain karena ia termasuk “Top Five university” di Inggris (lihat The Times University Guide 2017), juga telah berpengalaman lebih dari 25 tahun dalam bidang ekonomi, keuangan dan manajemen Islam.

Lalu apa saja yang dipelajari di jurusan ekonomi islam? Apakah sama dengan jurusan ilmu ekonomi “konvensional”? Mengintip kurikulum yang diterapkan di beberapa PTN, mahasiswa S1 ekonomi islam akan mempelajari rumpun ilmu ekonomi secara umum dari perspektif Islam maupun konvensional. Pada tahap penjurusan, mahasiswa diharuskan memilih konsentrasi studi pada ekonomi pembangunan islam, manajemen islam atau akuntansi islam (syariah). Sekilas mirip dengan variasi jurusan di sebuah fakultas ekonomi, uniknya ini ada dalam satu prodi dan bernafaskan islam. Lalu apa perbedaan antara ketiga konsentrasi tersebut?

Konsentrasi ekonomi studi pembangunan islam mendalami seluk beluk ekonomi islam dan konvensional mulai dari ekonomi mikro, ekonomi makro, ekonomi publik, ekonomi moneter, ekonomi pembangunan dan bidang lainnya yang umum ditemukan di sebuah jurusan ekonomi. Mahasiswa dengan konsentrasi ini akan akrab dengan rumus-rumus matematis dan ekonometrika dalam memodelkan berbagai permasalahan ekonomi. Lulusannya akan sangat diperlukan dalam menyusun kebijakan ekonomi syariah di suatu negara. Mereka bisa bekerja sebagai tenaga ahli namun tidak terbatas pada berbagai lembaga regulator keuangan seperti Bank Indonesia, Otoritas Jasa Keuangan, atau industri keuangan lainnya.

Sedangkan bidang manajemen islam lebih spesifik pada cara mengelola perusahaan atau organisasi dengan prinsip-prinsip syariah. Mata kuliah yang dipelajari diantaranya seperti manajemen keuangan islam & konvensional, manajemen bank dan lembaga keuangan syariah, dan manajemen investasi. Ilmu yang dipelajari di konsentrasi ini sangat penting bagi mereka yang hendak berwirausaha atau memimpin sebuah organisasi/perusahaan yang berprinsip syariah. Pada konsentrasi ini, mahasiswa juga akan bertemu dengan angka dan rumus, namun spesifik pada perencanaan dan pengelolaan keuangan dan investasi.

Sementara itu, mereka yang mengambil konsentrasi akuntansi syariah akan belajar tentang teknik-teknik mendokumentasikan peristiwa ekonomi masa lalu dalam sebuah laporan keuangan sesuai Standar Akuntansi Syariah (SAS). Laporan keuangan merupakan bahasa bisnis dan dasar pengambilan keputusan para stakeholder perusahaan/organisasi, sehingga peran akuntan sangat vital. Berbeda dengan manajemen yang fokus pada estimasi keuangan masa depan (future), akuntansi fokus pada peristiwa yang sudah lalu (historical). Analoginya dalam sebuah mobil, manajemen keuangan adalah kaca depan mobil sementara akuntansi adalah kaca spionnya. Keduanya sangat penting dan terintegrasi dalam pengelolaan perusahaan. Prospek karir sebagai akuntan syariah juga semakin terbuka lebar setelah dibukanya ratusan lembaga keuangan syariah (terdiri dari bank umum, unit usaha dan industri keuangan non-bank lainnya) di tanah air, yang membutuhkan akuntan yang memiliki background pendidikan akuntansi sekaligus memahami prinsip syariah.

Prospek karir para lulusan Ekonomi Islam sebetulnya tidak terbatas pada profesi yang disebutkan di atas. Dimana ada aktivitas ekonomi berdasar prinsip syariah, disitulah mereka dibutuhkan. Mereka dapat bekerja sebagai staf keuangan syariah, tenaga ahli ekonomi islam, bahkan pengajar/dosen ekonomi islam. Nilai plusnya bagi seorang muslim, mempelajari dan mengamalkan sistem ekonomi yang diturunkan Allah SWT dan diajarkan Rasul-Nya merupakan salah satu bentuk syi’ar dan jihad di jalan Allah, Tuhan seluruh alam. Insya Allah.

Referensi :

  1. http://nuk-tnl-editorial-prod-staticassets.s3.amazonaws.com/2016/bespoke/university-guide/index.html
  2. http://kelembagaan.ristekdikti.go.id/index.php/2017/08/18/daftar-100-peringkat-perguruan-tinggi-non-politeknik-tahun-2017/
  3. http://hmjie.feb.ub.ac.id/revisi-kurikulum-program-studi-ekonomi-islam/
  4. https://www.youthmanual.com/post/dunia-kerja/karier/prospek-karier-untuk-para-lulusan-jurusan-ekonomi-islam