Mawas Diri di Zaman Fitnah Masa Kini

Oleh: M. Arif Budiman Kantawijaya (Senior Art Director)

Apakah kita pernah berpikir bahwa kejadian, gosip, “musibah” atau apapun yang heboh terjadi di pemberitaan media adalah sebuah scenario terencana? Mungkin hanya beberapa orang saja yang berpikiran tersebut. Tapi kebanyakan masyarakat cenderung lebih percaya bahwa hal-hal di atas benar-benar terjadi secara alami tanpa adanya skenario buatan.

Mungkin kita perlu belajar dari film-film yang diangkat dari kisah nyata. Contohnya, dalam sebuah film produksi Korea Selatan yang berjudul “Ordinary Person” yang diangkat dari kejadian nyata. Setting film tersebut di ambil saat era reformasi di pemerintahan Korea Selatan. Dalam film ini diceritakan bahwa serangkaian peristiwa yang terjadi di negara tersebut sebenarnya sengaja dibuat oleh pihak tertentu demi kepentingan bisnis golongan tertentu. Mulai dari membuat opini public sampai mengobrak-abrik peraturan pemerintah. Semua dilakukan demi memuluskan kapitalisme dan kekuasaan golongan tersebut. Hasilnya, terjadilah fitnah dan pembunuhan pada saat itu.

Berkaca dari film kisah nyata tersebut, tidak menutup kemungkinan bahwa hal ini juga sebenarnya terjadi di semua negara di belahan bumi ini. Bahkan seenarnya ini juga terjadi di Indonesia. Sejarah-sejarah peristiwa yang kita pelajari atau dengar bukan tidak mungkin adalah sebuah rekayasa dari golongan tertentu untuk dapat berkuasa di Indonesia.

Di era kemajuan teknologi dan kemudahan arus informasi, serta beragamnya media komunikasi, kini opini publik mudah dikendalikan. Dengan memanfaatkan strategi komunikasi, melempar isu, lalu membakar isu tersebut, hingga akhirnya terjadi “gong” atau “ledakan” gerakan massa dapat diciptakan dan dimanfaatkan oleh golongan tertentu demi kepentingannya. Dari mulai fitnah hingga pengalihan isu kini sangat terjadi dan dapat kita rasakan di Indonesia.

Di Indonesia ini keberagaman kita sangat mudah dijadikan kelemahan. Hal-hal yang berbau SARA (suku, agama, ras, dan antar-golongan) mudah sekali dibakar dan digerakkan. Terutama saat-saat menjelang pemilu atau pilkada, hal tersebut dapat kita rasakan. Rasanya beberapa tokoh tiba-tiba datang menjadi solusi untuk sebuah isu yang sedang digodog dalam masyarakat.

Disinilah peran kita sebagai seorang yang beragama harus dapat menyadari dan melawan semua ini. Mawas diri, intelektual dan ilmu tentang agama benar-benar harus didalami sehingga kita dapat bijak dan bahkan memberi kontribusi yang positif agar masyarakat tidak terjerumus dan saling ricuh sesama. Peran dakwah di sini memegang peranan penting agar masyarakat pun ter-edukasi dalam menghadapi isu dan fitnah tersebut. Jika semua orang sudah sadar akan hal ini, bukan tidak mungkin, nantinya kejadian-kejadian negatif tersebut akan otomatis menghilang secara berangsur-angsur, cepat ataupun lambat. Bahkan kepositifan dalam hidup menjalankan nilai-nilai agama lah yang nanti akan terjadi di tengah masyarakat.