Peluang Indonesia Dalam Menghadapi ASEAN Economic Community di Bidang Kuliner

Oleh : Isroni Muhammad Miraj (Mirza), S.H., M.H

Indonesia sebagai Negara agraris tentu memiliki sumber daya yang sangat luas dan variatif hampir di semua sektor kehidupan masyarakat. Kekayaan alam yang berlimpah ini tentunya merupakan nilai penting dalam menjalankan startegi kebijakan nasional, terutama startegi di bidang pangan. Dalam kaitannya dengan hal tersebut, salah satu bidang bisnis yang masih menjadi trending topic dan menarik adalah bisnis kuliner. Dalam perkembangannya, bidang bisnis ini mengalami pertumbuhan yang sangat signifikan di seluruh wilayah Indonesia dalam beberapa tahun terakhir, termasuk di Kota Bandung. Adanya pertumbuhan dan penyebaran semacam ini juga tidak lepas dari inovasi dan kreasi masyarakat setempat, terutama generasi muda. Adanya kombinasi antara kualitas, kreativitas dan inovasi yang diwujudkan dalam bentuk produk-produk kuliner, dan hasil yang didapatkan pada akhirnya menimbulkan kepercayaan dari elemen masyarakat. Sehingga bisnis atau usaha kuliner menjadi semakin berkembang. Bahkan dalam banyak hal, fakta tersebut juga menarik para investor untuk ikut mengembangkan bisnis kuliner tersebut.

Dalam kaitannya dengan hal itu, maka bisnis kuliner yang tengah berkembang pesat di Indonesia juga sedikit banyak akan berdampak pada strategi pemasaran dalam lingkup kawasan ASEAN. Terkait dengan hal itu, bisnis kuliner akan mepengaruhi arah kebijakan Indonesia dalam menghadapi Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA). Istilah ini seharusnya bukan lagi menjadi istilah asing bagi kita. Hal ini dikarenakan memang hal tersebut sudah direncanakan belasan tahun ke belakang dan mulai berlaku di seluruh negara anggota ASEAN mulai 31 Desember 2015. Sebagai Negara anggota ASEAN maka sudah sepatutnya kita mampu menjawab tantangan dalam menghadapai MEA, khususnya di bidang kuliner.

Kementerian Perindustrian (KemenPerin) meyakini bahwa industri makanan dan minuman nasional menjadi sektor yang terkuat dalam menghadapi pasar bebas ASEAN karena didukung dengan sumber daya alam yang besar. Dirjen Industri Agro Kementerian Perindustrian, Panggah Susanto, merasa optimis bahwa industri makanan dalam negeri akan mampu bertahan dan bersaing di pasar bebas ASEAN. Kemenperin mencatat pertumbuhan positif sebesar 8,2% pada kuartal II/2016 untuk industri makanan dan minuman. Menurut Panggah,  peningkatan kekuatan industri makanan dan minuman di dalam negeri akan disokong oleh ketersediaan pasokan bahan baku dan energi. Panggah yakin jika kebijakan tersebut dapat terlaksana dengan baik, industri makanan dan minuman akan mampu memenangkan persaingan di pasar MEA. Ia juga menekankan bahwa industri makanan dan minuman merupakan sektor yang terus tumbuh dan berkontribusi besar terhadap perekonomian nasional. Sehingga hal tersebut memunculkan optimisme terhadap sektor makanan dan minuman agar kuat dan mampu bersaing di pasar ASEAN1.

Mengingat bisnis kuliner dalam banyak hal juga merupakan bagian dari UMKM (Usaha Mikro Kecil dan Menengah), maka perlu dilakukan peningkatan kualitas produk bersangkutan agar dapat bersaing secara optimal dengan produk sejenis lainnya. Hal ini pun dalam rangka meningkatkan persaingan usaha secara sehat. Terkait hal itu, maka sudah sepantasnya agar produk hasil bisnis kuliner juga dipertimbangkan dan ditingkatkan kualitasnya demi di ekspor ke luar negeri. Sehingga hal tersebut akan menambah pangsa pasar serta aliran modal yang masuk ke dalam negeri.

Ada banyak peluang sekaligus juga tantangan yang perlu dicermati seiring berjalannya MEA semenjak 31 Desember 2015 lalu. Hal yang perlu kita cermati adalah bagaimana cara menyikapinya dan bagaimana cara kita berpikir dan bertindak dalam menangkap dan menjawab semua peluang dan tantangan tersebut. Terkait hal itu, sebagai bagian dari masyarakat ASEAN, MEA harus disikapi secara bijak, karena secara prinsipil, tujuan dari MEA adalah untuk menguntungkan negara-negara di Asia Tenggara, termasuk Indonesia. Selain dapat menciptakan ribuan lapangan pekerjaan baru, tentunya hal ini juga dapat meningkatkan kesejahteraan 620 juta orang yang tinggal di Asia Tenggara. Dalam setiap 100 penduduk ASEAN, 38 penduduk adalah orang Indonesia. Negara-negara lain seperti Singapura dan Thailand tidak memiliki kelebihan yang disebut sebagai bonus demografi ini. Diharapkan dengan jumlah penduduk produktif lebih besar akan ada lebih banyak tenaga kerja yang mampu menopang pertumbuhan ekonomi dan peningkatan pendapatan perkapita penduduk Indonesia, sehingga di tahun 2019 kita bisa menjadi negara middle income country, menghapus stigma seperti sekarang yang masih middle-lower income country. Oleh karena itu, kunci yang harus kita pahami, selain inovasi dan kreativitas dalam berbisnis, adalah cara memanfaatkan kemajuan teknologi informasi sebagai salah satu inovasi dalam meningkatkan revenue bisnis, khususnya bagi mereka pebinis skala UKM dan bidang usaha kuliner pada umumnya2.

Referensi:

  1. Industri Makanan dan Minuman Jadi Andalan RI di MEA, http://industri.bisnis.com/read/20160812/257/574692/industri-makanan-dan-minuman-jadi-andalah-ri-di-mea, Edisi 12 Agustus 2016, Diakses Penulis Pada 8 April 2018
  2. Pengaruh MEA Terhadap Perkembangan Bisnis Kuliner Skala UKM di Indonesia, http://softwareukm.net/post/139040789788/pengaruh-mea-terhadap-perkembangan-bisnis-kuliner, Diakses Penulis Pada 8 April 2018