Antara Dakwah, Dai dan Profesi

Oleh: M. Arif Budiman Kantawijaya (Senior Art Director)

Dakwah merupakan salah satu ibadah yang wajib. Menyampaikan kebenaran dan kesabaran. Menyampaikan iman dan ilmu Islam. Kepada siapapun, kapanpun dan dimanapun. Menurut KBBI, dai (kata benda) orang yang kerjanya berdakwah; pendakwah: melalui kegiatan dakwah. Jadi sebagai muslim kita sudah pasti dai. Dalam hadist pun, Nabi Muhammad SAW berkata :

“Sampaikanlah dariku walau hanya satu ayat” (HR. Bukhari).”

Profesi, menurut wikipedia,kata serapan dari sebuah kata dalam bahasa Inggris “Profess”, yang dalam bahasa Yunani adalah “Επαγγελια”, yang bermakna: “Janji untuk memenuhi kewajiban melakukan suatu tugas khusus secara tetap/permanen”.

Dakwah, yang sejatinya adalah sebuah salah satu bentuk ibadah, kini beberapa “alim ulama” menggunakannya sebagai profesi. Mereka mencari uang dari berdakwah ini. Memang tidak ada salahnya ketika dai memperoleh uang, sekedar untuk uang transportasi dan akomodasi adalah sah saja. Namun sangat disayangkan ada beberapa oknum yang mengenakan tarif tertentu, bahkan syarat tertentu, seperti jumlah jemaah dan fasilitas khusus lainya. Hal ini banyak terjadi di lapangan. Ada penyimpangan sehingga menyebabkan kemurnian ibadah berdakwah ini dapat menjadi rusak karenanya. Dan perlukah orang yang akan disampaikan ilmu kebaikan membayar terlebih dahulu ahar dapat memperoleh ilmu tersebut dalam konteks dakwah ini.

Jika dilihat lebih luas lagi, dakwah profesi ini terjadi dengan berbagai sebab. Kini sering kita lihat, beberapa oknum berdakwah namun dilatarbelakangi oleh politik. Materi dakwah yang disampaikanpun bisa dikatakan menyesatkan, karena menggunakan ayat dan hadis yang dirangkaikan seakan-akan mewujudkan tujuan politik golongan tertentu agar memperolehsimpati publik. Mungkin beberapa dari kita sadar bahwa yang demikian adalah tidak benar. Namun sayangnya, masih banyak orang-orang awam yang menelan mentah-mentah dakwah yang disampaikan oknum-oknum ini.

Hal ini sangat berbahaya bagi umat. Jika terjadi kekecewaan pada umat, dapat menagkibatkan kesalahpahaman mengenai Islam itu sendiri. Padahal, Islam adalah rahmatan lil alamin, agama yang penuh kedamaian dan kebenaran. Namun karena ulah oknum tertentu yang tidak bertanggung jawab, persepsi tentang Islam menjadi samar. Kini sering kita dengar bahwa Islam adalah agama yang sangat menyukai kekerasan, agama yang sangat rasis, agama yang membolehkan untuk membunuh dan lain sebagainya. Citra Islam ini menjadi sangat buruk di mata beberapa orang-orang, bahkan beberapa muslim yang awam pun akhirnya murtad karena citra tersebut.

Hal ini harus segera diatasi agar orang-orang menyadari nilai serta arti sesungguhnya tentang Islam dan dakwah. Ilmu tentang Islam benar-benar harus didalami dan disebarkan agar masyarakat kita paham betul tentang agamanya. Dengan demikian, masyarakat pada akhirnya akan mengetahui mana ajaran Islam yang sesungguhnya dan mana ajaran Islam yang sudah menyimpang karena kepentingan kelompok tertentu. Masyarakat yang paham secara mendalam tentang Islam akan berdampak baik tentunya untuk masa depan umat. Terkait hal itu, diharapkan oknum-oknum yang ingin menciptakan perpecahan dan kekisruhan dalam umat akan gagal karena kita semua tidak bisa diprovokasi atas nama agama lagi. Kita pun jadi sadar dan paham bagaimana seharusnya berpolitik di negara ini jika paham Islam secara benar.

Umat Islam meyakini bahwa Islam ialah agama yang benar. Lalu kita sampaikan kebenaran tersebut secara benar dengan niat yang benar karena Allah SWT. Jika umat memang paham Islam secara benar dan bijak sesuai tuntunan Al Quran dan Sunnah, maka Islam pun dapat dijalankan secara benar pula sesuai tuntunan dalam kedua sumber esensial tersebut.