Bias Kemerdekaan

Dalam buku Hajar ra karya Sibel Eraslan, buku yang membahas tentang ibunda Hajar radiyallahu anha ini menyimpan banyak kisah, hikmah dan tauladan. Banyak pemaknaan dari kemerdekaan mengingat bahwa dulunya Hajar radiyallahu anha adalah seorang putri raja yang bebas lalu menjadi budak tawanan perang lalu kembali dibebaskan. Namun, ada satu ungkapan mengenai makna kemerdekaan yang membuat pikir kembali mengulik pemaknaan kemerdekaan yang sebenrnya, yaitu

“sejatinya menghamba kepada Allah adalah kebebasan itu sendiri, karena dalam penghambaan itu manusia berada dalam lingkungannya sebagai titah seorang hamba.”
~Hajar (ra) Novel Sibel Eraslan

Menjadi seorang hamba adalah bentuk dari kemerdekaan itu sendiri bagi manusia yang menyadari bahwa dia berada pada posisi seorang hamba dari penciptanya yaitu Allah subhanahu wata’ala. Hal ini menggelitik untuk kembali berpikir dan merenungkan pemaknaan dari kemerdekaan dan perbudakan itu sendiri, karena bagaimana seorang budak bisa merasa bebas dengan adannya ikatan?

Pemaknaan kemerdekaan, perbudakan dan ikatan menjadi penting, karena ternyata pemahaman kebebasan yang salah menciptakan perjalanan yang salah pula. Seperti pemikiran tentang dunia bebas yang mungkin banyak diigandrungi oleh orang orang sekitar kita. Dunia bebas, dunia yang dijalankan sesuai dengan apa yang dikehendakinya, berbuat sekenanya dan mengambil dengan rakusnya. Inilah prinsip dunia bebas yang bernaung di bawah bendera YOLO (You Only Live Once). Namun faktanya, kebebasan tanpa ikatan tak akan pernah diperoleh manusia, karena disadari atau tidak, manusia akan terikat dengan apapun dan bahkan nilai dari seorang manusia terlihat dengan apa atau siapa dia terikat. Mereka yang merasa bebas memeras pundi pundi uang dan melakukan segala cara untuknya menjadi budak harta, mereka yang bebas untuk mengambil wanita yang mana saja yang disenanginya menjadikanya budak dari syahwatnya, mereka yang merasa bebas dengan waktunya dan bersenang senang, seolah hidup adalah hanya tentangnya dan bagaimana memuaskan dirinya, mereka menjadi budak dari nafsunya sendiri sehingga penilaian, tak jauh dari dengan apa dia terikat dan mengabdi. Budak harta, tahta atau nafsu, tak ada kemerdekaan atasnya karena harta tak menjaminkan kemerdekaan dengan menghamba padanya, tahta tak menjamin kemerdekaan dengan menghamba padanya dan nafsu tak menjamin kemerdekaan dengan menghamba padanya. Hanya satu dimana keterikatan dan penghambaan menjaminkan kemerdekaan, yaitu keterikatan dengan Allah subhanahu wata’ala.

Bila kita belajar dari ikan yang hanya bebas berenang di air, menjadikannya terikat dengan air. Dalam air lah ia menjalani kehidupan, tumbuh dan berkembang. Keterbatasanya dengan hanya bisa hidup di air justru membuatnya merdeka. Keterikatanya dengan air adalah kemerdekaan, berada dalam air adalah kemerdekaan sehingga ikan tidak pernah memprotes untuk bisa tinggal di padang rumput atau kebun, ia sedia berada di air. Begitu pula manusia, ia hadir di dunia dengan titah menjadi seorang hamba dan terikat dengan penciptanya, sehingga keterikatan ini menjadikannya justru merdeka. Seperti ikan yang hanya terikat dengan air, berada disana menjadikanya merdeka, ikan tak menuntut untuk bebas hidup di daratan karena menyadari betul kemerdekaanyannya adalah saat ia berada di air. Maka manusia, yang hanya akan merdeka bila terikat dengan Allah Swt, dengan islam yang menjadi jalan pengabdianya dan Al-Qur’an menjadi pedoman yang membimbingnya. Itulah kemerdekakan seorang manusia, saat titel hamba melekat padanya dengan kesadaran, saat memutuskan segala ikatan dan hanya terikat pada Allah saja. Ikatan ini Allah tuliskan dalam Q.s Adz – Dzariyat : 56

“Dan aku tidak ciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada ku”
~Q.s Adz-Dzariyat : 56

Kemerdekaan tanpa ikatan adalah pemaknaan yang bias dari kemerdekaan itu sendiri. Wallahu’alam.