Therapeutic Landscape : Menyulap Kawasan Publik Menjadi Tempat Terapi

Dalam keseharian kita berjumpa dengan rutinitas yang selalu menguras pikiran dan tenaga. Kondisi fisik yang menurun ditambah beban pikir yang kian menumpuk dan suasana di sekitar yang acak menambah beban hidup yang tak jarang berujung stress atau depresi. Hal ini mungkin lebih dirasakan oleh masyarakat urban di kota Jakarta sehingga setiap minggu dengan waktu libur dua hari, waktu yang terhitung singkat, langsung tancap gas menuju kawasan wisata alam di daerah Bandung. Jadilah jalanan beberapa titik kemacetan langganan muncul di Bandung saat weekend. Berdasarkan fenomena ini terlihat keterkaitan antara depresi dan alam. Manusia seolah punya radar dimana tempat dia bisa kembali merefresh pikiran, kembali mencharge diri yang habis dimakan rutinitas 5 hari kebelakang.

Alam dan manusia jelas memiliki keterikatan. Menurut Kellert dalam Jurnal Sains dan Seni tentang Ruang Publik untuk Kesehatan Mental Masyarakat Perkotaan, terdapat beberapa kecenderungan manusia dengan alam. Beberapa diantaranya adalah alam dapat menurunkan tingkat strees, kontak dengan alam dapat meningkatkan fungsi kognitif pada manusia untuk mengerjakan tugas-tugas yang membutuhkan konsentrasi dan memori, kemudian otak manusia merespon elemen sensorik yang berasal dari lingkungan alam. Kecenderungan manusia terhadap alam ini digunakan sebagai terapi penyembuhan oleh banyak orang dengan liburan menuju tempat wisata yang bernuansa alam tanpa mereka sadari. Dalam dunia sains, yaitu geografi kesehatan terdapat sebuah konsep kesehatan dengan menggunakan alam yaitu Therapeutic Landscape.

Therapeutic Landscape merupakan konsep yang mengatur tempat, tata letak, situasi, lokasi dan lingkungan yang mencangkup bangunan secara fisik, simbol dan lingkungan sosial yang bekerja untuk mencapai penyembuhan fisik, mental dan spiritual (Williams, 2010) . Saat ini, konsep Theraupetic Landscape dibangun atas landscape fisik yang bersifat alami, lingkungan sosial dan simbolisnya, serta atas pikiran (mind). Therapeutic Landscape ini mencangkup konsep dalam mengatur situasi, lingkungan fisik, psikologis, dan sosial yang terkait dengan penyembuhan untuk memunculkan efek terapi dan penyembuhan. Dalam pengaturan lingkungan fisik, Therapeutic Landscape ini menggunakan simbol-simbol alam seperti pohoh, suara burung, rerumputan, bunga-bunga, air dan elemen alam lainya untuk memunculkan suasana tenang, aman dan nyaman yang menghadirkan efek terapi secara psikologis. Konsep Therapeutic Landscape ini memiliki banyak interpretasi dan penerapan dalam aplikasinya untuk penyembuhan. Salah satu pengaplikasian dari konsep Therapeutic Landscape adalah Healthcare Garden. Helathcare Garden ini mnghadirkan efek terapi dan penyembuhan dengan mengoptimalkan area taman. Penelitian yang dilakukan oleh Marcus dan Barnes (1999 dalam Bengtsson, 2014) menunjukan adanya tiga aspek yang mampu memperjelas bagaiamana konsep healthcare garden yang dipadukan dengan lingkungan dapat mengoptimalkan fungsi ruang sebagai penerapan konsep Theraupetic Landscape yaitu 1) Relief from physical; 2) stress reduction; 3) improvement of the overall sense of well-being. Melihat hal ini, lingkungan tempat penyembuhaan tidak terbatas pada landscape alami saja yang tapi juga dapat dilakukan rekayasa tempat dengan menghadirkan unsur unsur alam untuk menimbulkan efek terapi dengan menggunakan konsep Therapeutic Landscape. Bila melihat percobaan yang dilakukan oleh Marcus dan Barnes, area taman akan menjadi taman terapi apabila area ini memuat lingkunag fisik yang bernuansa alam, area tersebut dapat mereduksi tingkat stres dan dapat meningkatkan perasaan sejahtera, aman dan tentram. Poin-poin ini dapat diterapkan ditempat lainya sebagai terapi dengan alam. Tidak hanya terbatas di area taman tapi bisa diterpakan pula di area publik lainya selagi kawasan tersebut memuat konsep Theraupetic Landscape dan 3 poin yang diungkapkan oleh Marcus dan Barnes. Pengaplikasian konsep ini tidak terbatas untuk diluar ruangan saja, beberapa perusahaan menggunkan konsep ini dan merekayasa area dalam kantor mereka.

Penggunakan Therapeutic Landscape dapat menjadi solusi masyarakat urban untuk me-refresh kembali pikiranya dengan menerapakan konsep ini pada tempat dan lingkungan yang sering ditemui sehingga memunculkan efek terapi setiap harinya, yang cepat lambat akan berdampak positif bagi tubuh. Healthcare Garden yang telah diterapkan di beberapa negara untuk membentuk taman penyembuhan dapat diterapkan pada taman kota, taman di sekitar kantor atau bahkan tempat umum lainya. Konsep Therapeutic Landscape ini masih dikembangkan oleh beberapa peneliti untuk terus mematangkan konsepnya.

Sumber :

  • Azizah, U. I., & Jaya, A. M. (2016). Ruang Publik untuk Kesehatan Mental. JURNAL SAINS DAN SENI ITS , 1.
  • Williams, A. (2010). Spiritual therapeutic landscapes and healing: A case study of St. Anne de Beaupre,. Social Science & Medicine , 1635.